Showing posts with label Hijauan dan Konsentrat. Show all posts
Showing posts with label Hijauan dan Konsentrat. Show all posts

Thursday, July 9, 2015

Macam-Macam Jenis Hijauan Pakan Sapi

Mengenal Lebih Dalam Jenis Hijauan Pakan Ternak Sapi Sumber Protein:
  • Lamtoro
  • Indigofera Sp
  • Gamal
  • Alfalfa 
  • Turi
Daun Pohon Lamtoro
Wahyuni dkk. (1981) melaporkan hasil percobaan pada sapi PO (Peranakan Ongole) yang diberi ransum pokok rumput lapangan ditambah daun lamtoro sebanyak 0%, 20%, 40%, 60% dan 100% yang memperlihatkan pertambahan bobot tubuh harian masing-masing sebesar 0,02 kg, 0,29 kg, 0,54 kg dan 0,57 kg dan 0,38 kg . Pemberian lamtoro 40% dan 60% yaitu terbaik kalau dibandingkan dengan tunjangan lamtoro sebanyak 0%, 20% dan 100%. Selain itu selama 26 ahad (182 hari) dilakukan percobaan tidak terlihat adanya tanda-tanda keracunan pada ternak.
Lamtoro ( Leucaena leucacocephala ) merupakan jenis tumbuhan yang sudah dikenal semenjak usang dengan nama petai cina. Tanaman ini berasal dari Amerika tengah, yang menyebar keberbagai pelosok perdesaan lantaran gampang tumbuh dihampir semua tempat yang mendapat curah hujan yang cukup. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa produksi hijauan tumbuhan lamtoro sanggup mencapai 20 ton materi kering/ha/tahun dengan total produksi protein bergairah sebesar 3 ton/ha/tahun. Hasil penelitian memperlihatkan kandungan nutrisi lamtoro hampir sama dengan glisiridae.


Menurut Muelen et. al., (1979) lamtoro sanggup dipakai untuk makanan ternak dan mempunyai potensi besar untuk dikembangkan. Hal ini disebabkan lantaran lamtoro gampang ditanam, cepat tumbuh, produksi tinggi dan komposisi asam amino yang seimbang.

Eniolorunda (2011) melaporkan komposisi proksimat tepung daun lamtoro yaitu 88,2% materi kering, 21,8% protein kasar, 15,1% serat kasar, 3,1% abu, 8,6% ekstrak eter, dan 50,7% BETN. Ayssiwede, et al. (2010) melaporkan hasil penelitian dari beberapa peneliti bahwa lamtoro penting sebagai sumber materi pakan lantaran kaya akan protein, asam-asam amino esensial, mineral, karotenoid dan vitamin. Lamtoro termasuk hijauan yang bernilai gizi tinggi namun pemanfaatannya sebagai pakan ternak pemberiannya perlu dibatasi.

Lamtoro mengandung zat anti nutrisi yaitu asam amino non protein yang disebut mimosin, yang sanggup menjadikan keracunan atau gangguan kesehatan apabila dikonsumsi dalam jumlah yang banyak dan terus menerus dalam jangka waktu yang cukup usang (Haryanto, 1993 dan Siregar, 1994). Mimosin mempunyai rumus kimia ß-N-(3hydroxypyridone-4)-a-amino-propenoic acid. Gangguan kesehatan tersebut biasanya ditandai dengan rambut rontok, pertumbuhan lambat, dan pembengkakan kelenjar gondok (Siahaan, 1982).

Zat anti nutrisi Iainya yang terkandung di dalam Iamtoro yaitu asam sianida (HCN) yang kuat jelek lantaran sanggup mengakibatkan terjadinya pembengkakan kelenjar tiroid pada ternak. Asam sianida sanggup mengakibatkan keracunan akut (mematikan) dan keracunan kronis. Pada takaran rendah HCN yang masuk dalam tubuh ternak dalam jangka waktu yang cukup usang sanggup menurunkan kesehatan ternak.

Penggunaan Daun Lamtoro pada domba
Menurut Wina (1982) penambahan daun Iamtoro hingga dengan 30% pada domba yang diberi ransum dasar rumput gajah memperlihatkan nilai koefisien cerna protein, materi organik dan energy yang lebih tinggi dari pada kaliandra dan gamal, namun tidak berbeda dalam pertambahan bobot tubuh dan konsumsi ransum (bahan kering, materi organik dan energi).

Penggunaan Daun Lamtoro Pada Kelinci
Yurmiaty dan Suradi. 2007 menyatakan bahwa penggunaan 10% daun lamtoro dalam ransum sanggup meningkatkan berat, luas dan tebal pelt, namun apabila penggunaan daun lamtoro ditingkatkan menjadi 20% akan diikuti dengan penurunan berat, luas dan tebal pelt (kerontokan bulu). Hal ini memperlihatkan bahwa tunjangan daun lamtoro sanggup meningkatkan produksi kulit apabila diberikan sebanyak 10 % dalam ransum. (Pelt yaitu bulu yang telah ditanggalkan dari tubuh ternak).

Penggunaan Daun Lamtoro Pada Ayam Pedaging
Dalam penelitiaanya Mandey et. al., 2015 yang berjudul Manfaat Daun Lamtoro (Leucaena Leucocephala Dalam Pakan Ayam Pedaging Diukur Dari Penampilan Produksi menyimpulkan bahwa pakan dasar ayam pedaging sanggup digantikan dengan tepung daun lamtoro hingga 20%.

Penggunaan Daun Lamtoro Pada Sapi PO.
Wahyuni dkk. (1981) melaporkan hasil percobaan pada sapi PO (Peranakan Ongole) yang diberi ransum pokok rumput lapangan ditambah daun lamtoro sebanyak 0%, 20%, 40%, 60% dan 100% yang memperlihatkan pertambahan bobot tubuh harian masing-masing sebesar 0,02 kg, 0,29 kg, 0,54 kg dan 0,57 kg dan 0,38 kg . Pemberian lamtoro 40% dan 60% yaitu terbaik kalau dibandingkan dengan tunjangan lamtoro sebanyak 0%, 20% dan 100%. Selain itu selama 26 ahad (182 hari) dilakukan percobaan tidak terlihat adanya tanda-tanda keracunan pada ternak.

Daun Pohon Indigofera Sp
Tepung daun Indigofera zollingeriana mengandung protein bergairah (PK) berkisar 23,66–31,1%, NDF 48,39-54,09%, ADF 47,25-51,08% (Suharlina 2010); Ca 3,08-3,21%, P 0,22-0,35%, (Abdullah & Suharlina 2010) dan koefisien cerna in vitro materi organik dan protein masing-masing berkisar 65,33-70,64% dan 87,15-90,64% (Suharlina 2010). Uji coba palatabilitas dan penggunaan hijauan segar Indigofera zollingeriana pada kambing kacang memperlihatkan peningkatan efisiensi pakan dan bobot tubuh hingga 45% (Tarigan 2009). 
Tanaman Indigofera sp. yaitu salah satu genus legum pohon terbesar dengan asumsi 700 spesies, 45 jenis tersebar diseluruh wilayah tropis (Schrire 2005). Spesies Indigofera kebanyakan berupa semak meskipun ada beberapa yang herba, dan beberapa lainnya membentuk pohon kecil dengan tinggi mencapai 5 hingga 6 meter. Ciri tumbuhan Indigofera mempunyai daun yang menyirip dengan ukuran 3-25 cm, dengan bunga kecil berbentuk raceme dengan ukuran panjang 2-15 cm. Tanaman Indigofera sp. sanggup menyesuaikan diri tinggi pada kisaran lingkungan yang luas, dan mempunyai aneka macam macam morfologi dan sifat agronomi yang sangat penting terhadap penggunaannya sebagai hijauan dan tumbuhan epilog tanah (cover crops) (Hassen et al. 2006).


Ciri–ciri legum Indigofera sp. yaitu tinggi kandungan protein dan toleran terhadap kekeringan dan salinitas (Skerman 1982), dikala akar terdalamnya sanggup tumbuh kemampuannya untuk merespon curah hujan yang kurang dan ketahanan terhadap herbivor merupakan potensi yang baik sebagai cover crop (tanaman epilog tanah) untuk daerah semi-kering dan daerah kering (Hassen et al. 2004, 2006).
Beberapa spesies di Afrika dan Asia telah dilaporkan sanggup dipakai sebagai hijauan (I. hirsuta, I. pilosa, I. schimperi Syn, I. oblongifolia, I. spicata, I. subulata Syn, dan I. trita) dan tumbuhan epilog tanah (cover crop) (I. hirsuta dan I. trita) (Hassen et al. 2007).

Spesies lain, menyerupai I. arrecata Hochst.ex A.Rich., I. articulata Gouan, I. suffruticosa Mill. dan I. tinctoria L., juga dipakai sebagai materi pewarna, pakan ternak, pastura Vol. 2 No. 1 : 30 - 33 ISSN : 2088-818X 31 pelindung tanah, tumbuhan epilog humus, kontrol pengikisan dan tumbuhan hias (Schrire 2005). Sekitar 50% jenis Indigofera spp. yang ada beracun dan hanya 30% yang palatable (Strickland et al. 1987), akan tetapi jenis yang palatable mempunyai potensi yang besar sebagai hijauan pakan, sedangkan jenis yang tidak palatable (beracun) sangat cocok sebagai cover crop terutama pada daerah kering, semi kering dan gurun (Hassen et al. 2006).

Indigofera spp. mempunyai banyak tugas penting dalam bidang pertanian maupun industry. Indigofera sp. dalam bidang pertanian banyak dipakai sebagai sumber pakan hijauan,tanaman epilog tanah, pupuk hijau, mulsa, pengendali pengikisan dan tumbuhan hias, sedangkan dalam bidang industry dipakai sebagai pewarna alami dan obat-obatan.

Tanaman ini merupakan leguminosa pohon yang tersebar di daerah tropis Asia. Produksi materi kering (BK) total Indigofera zollingeriana mencapai 51 ton hijauan kering/ha/tahun dengan interval defoliasi 60 hari sanggup menghasilkan hijauan berkualitas (Abdullah & Suharlina 2010) dan kandungan asam amino yang lengkap serta vitamin larut lemak (Suharlina, belum dipublikasi).

Tepung daun Indigofera zollingeriana mengandung protein bergairah (PK) berkisar 23,66–31,1%, NDF 48,39-54,09%, ADF 47,25-51,08% (Suharlina 2010); Ca 3,08-3,21%, P 0,22-0,35%, (Abdullah & Suharlina 2010) dan koefisien cerna in vitro materi organik dan protein masing-masing berkisar 65,33-70,64% dan 87,15-90,64% (Suharlina 2010). Uji coba palatabilitas dan penggunaan hijauan segar Indigofera zollingeriana pada kambing kacang memperlihatkan peningkatan efisiensi pakan dan bobot tubuh hingga 45% (Tarigan 2009).

Tanaman Indigofera zollingeriana termasuk tumbuhan yang responsif terhadap perlakuan nutrisi. Perlakuan tunjangan pupuk cair organik yang dibentuk sendiri sanggup memperbaiki pertumbuhan (Budie 2010; Suharlina 2010) dan memperbaiki komposisi nutrisi dan kecernaan hijauan Indigofera zollingeriana (Suharlina 2010; Abdullah 2011) serta fermantabilitasnya dalam rumen kambing (Jovintry 2011).

Pengolahan hijauan Indigofera zollingeriana menghasilkan produk pelet daun murni (100%) berjulukan Indigofeed (Abdullah 2010), yang telah diuji daya simpan, daya fasilitas penanganan dan pabrikasinya (Izzah 2011). Penggunaan Indigofeed dalam ransum kambing memperlihatkan terjadi peningkatan produksi susu hingga 26% dan terjadi peningkatan efisiensi pakan 15-23% dan efisiensi nutrisi 5-9% (Apdini 2011).

Daun Pohon Gamal / Gliricidea
Gamal atau Gliricidia merupakan jenis multiguna. Pada daerah tropika, dipakai sebagai pagar hidup. Kemampuannya bertunas sehabis dipangkas cocok untuk pakan ternak, kayu bakar dan tiang. Pada kondisi di bawah optimal, produksi biomas mencapai 12 ton berat kering per hektar per tahun. Merupakan jenis pengikat nitrogen, daunnya sanggup dipakai sebagai mulsa dan pupuk hijau sehingga cocok untuk agroforestry.
Pohon gamal, berdasarkan beberapa literature sangat menarik lantaran beberapa hal : fasilitas ditanam, adaptif diberbagai daerah, bunga yang indah dan eksotik serta kemanfaatannya sebagai hijauan pakan ternak, pestisida alami, tumbuhan pagar dan penahan erosi.
Gamal
Dengan membudidayakan pohon gamal maka diharapkan dikala animo kemarau pemenuhan hijauan makanan ternak tidak akan mengalami kesulitan. Sebagai makanan alami ternak terutama ternak ruminansia maka hijauan wajib ada dalam sajian ration ternak ruminansia.

Meskipun Gamal sanggup diperbanyak dengan biji, tapi lebih sering memakai setek batang dalam perjuangan mengembangbiakan Gamal. Alasan pertama adalah, sulitnya mencari dan mengumpulkan biji Gamal.Di aneka macam tempat yang kami temui, jarang pohon Gamal yang sanggup tumbuh hingga besar, berbunga dan berbiji. Hal ini disebabkan Gamal sudah secara terpola di panen daun dan batangnya, jarang yang sanggup tumbuh hingga berbunga dan berpolong. Alasan lain, perbanyakan dengan setek batang lebih gampang dan lebih cepat daripada melalui biji.

Tanaman yang diperbanyak dengan setek sudah sanggup dipanen perdana pada usia di bawah 1 tahun. Biasanya 8-10 bulan. Sedangkan pada tumbuhan biji, hasil biomasa gres sanggup diperoleh pada usia sekira 2 tahun. Penanaman setek lebih baik berasal dari batang bawah tumbuhan yang cukup usia (diatas 2 tahun), diameter batang cukup besar (diatas 4cm) dengan panjang setek bervariasi mulai dari 40cm hingga 1.5m. Jarak tanam juga bervariasi, antara 40 -50cm hingga dengan 1.5 – 5m tergantung kebutuhan. Meskipun adakala menggugurkan daunnya pada animo kering dan kondisi udara dingin, Gamal sanggup dikategorikan sebagai pohon yang selalu hijau (evergreen). Dapat dipanen setiap 3 – 4 bulan sekali, dengan hasil antara 1 – 2 kg hijauan berair per tanaman. G. sepium merupakan tumbuhan yang cocok untuk tanah asam dan marginal menyerupai diutarakan oleh Szott et al. (1991).

Gamal dalam taksonomi tumbuhan termasuk famili Fabaceae (Papilionoideae) yaitu salah satu jenis tumbuhan yang gampang ditanam dan tidak memerlukan sifat tanah khusus. (Manglayang Farm Online, 6 Maret 2006). Gamal yaitu tumbuhan orisinil di tempat Pantai Pasifik Amerika Tengah yang bermusim kering. Gamal diperkirakan masuk ke Indonesia sekitar tahun 1900 untuk dipakai sebagai tumbuhan pelindung pada areal perkebunan di daerah Medan (Harian Umum Suara Karya, 19 Mei 1992 dalam Manglayang Farm Online, 6 Maret 2006). Ciri umum Gamal yaitu daun menyirip, dengan bentuk daun oval runcing yang agak lebar, dan bunganya cukup indah berwarna ungu keputihan. Tanaman Gamal tumbuh baik pada daerah dengan ketinggian 0-1300 meter dari permukaan maritim dan sanggup tumbuh mencapai ketinggian 10 meter.

Gliricidia merupakan jenis multiguna. Pada daerah tropika, dipakai sebagai pagar hidup. Kemampuannya bertunas sehabis dipangkas cocok untuk pakan ternak, kayu bakar dan tiang. Pada kondisi di bawah optimal, produksi biomas mencapai 12 ton berat kering per hektar per tahun. Merupakan jenis pengikat nitrogen, daunnya sanggup dipakai sebagai mulsa dan pupuk hijau sehingga cocok untuk agroforestry. Nama “ibu kokoa” muncul lantaran sering dipakai sebagai peneduh coklat, kopi dan teh. Kayunya keras dan awet, berat jenis 0,5-0,8g/cm3. Nilai kalorinya 4.900 kkal/kg. (Hanum dan van der Maesen, 1997).

Batang tumbuhan gamal yaitu tunggal atau bercabang, jarang yang menyemak, tinggi 2-15 m. Batang tegak, diameter pangkal batang 5-30 cm, dengan atau tanpa cabang di bersahabat pangkal tersebut. Kulit batang coklat keabu-abuan dengan alur-alur kecil pada batang yang telah tua. Daun beragam menyirip, panjang 19-30 cm, terdiri 7-17 helai daun. Helai daun berhadapan, panjang 4-8 cm dengan ujung runcing, jarang yang bulat. Ukuran daun semakin kecil menuju ujung daun. Bunga merah muda cerah hingga kemerahan, jarang yang putih, panjang 2,5-15 cm, susunan bunga tegak (Amara dan Kamara, 1998).

Alfalfa (Medicago sativa L)

Alfalfa (Medicago sativa L) merupakan tumbuhan perenial dan merupakan hijauan pakan yang terkenal di dunia. Alfalfa juga merupakan legume yang sangat selektif terhadap Rhizobium meliloti, simbiosis antara alfalfa dengan Rhizobium meliloti ini akan membentuk bintil akar yang berfungsi mengikat N sehingga sanggup dimanfaatkan oleh alfalfa (Rao, 1994).


Alfalfa yaitu tumbuhan tahunan berupa herba berakar dalam (dapat mencapai 4,5 meter) bercabang dan membentuk rhizome, membutuhkan sinar matahari dan kadar kapur yang cukup, tahan temperatur tinggi tetapi tidak tahan kelembaban tinggi. Memerlukan drainase baik, pH 6,5 atau lebih dengan kesuburan tanah yang baik.

Alfalfa sanggup menyesuaikan diri pada daerah kering dengan drainase yang baik. Alfalfa mempunyai batang mendatar, menanjak hingga tegak, berkayu di kepingan dasar, cabang-cabang di kepingan dasar dan menanjak setinggi 30-120 cm, satu tangkai berdaun tiga (“trifoliat”), panjang daun 5-15 mm, berbulu pada permukaan bawah, tangkai daun berbulu, bunga berbentuk tandan yang rapat berisi 10-35 bunga, mahkota berwarna ungu atau biru jarang yang berwarna putih (Mannetje dan Jones, 2000).

Alfalfa berkembang secara luas sebagai pakan dan seringkali dipanen untuk dijadikan hay. Hay yaitu hijauan pakan, berupa rerumputan/leguminosa yang disimpan dalam bentuk kering berkadar air : 20-30%. Pembuatan Hay bertujuan untuk menyeragamkan waktu panen biar tidak mengganggu pertumbuhan pada periode berikutnya, lantaran tumbuhan yang seragam akan mempunyai daya cerna yang lebih tinggi. Waktu defoliasi (waktu panen) alfalfa lebih dipengaruhi oleh fase pertumbuhan daripada umur tumbuhan dimana alfalfa yang dipanen pada awal pertumbuhan mempunyai kandungan nutrisi lebih tinggi dibandingkan tumbuhan tua.

Menurut Bagg (2003) untuk mengoptimalkan produksi, kualitas dan kelangsungan produksi alfalfa diharapkan administrasi pemotongan yang tergantung dari tahap perkembangan tanaman, tinggi dan interval defoliasi. Tahap pertumbuhan dan perkembangan dikala alfalfa dipanen menjadi faktor utama dalam memilih kualitas hijauan dan produksinya

Tabel 1. Klasifikasi Alfalfa (Ildis, 2005)
Kingdom:Plantae
Division          :Magnoliophyta
Class  :Magnoliopsida
Order:Fabales
Family:Fabaceae
Subfamily:Faboideae
Tribe:Trifolieae
Genus:Medicago
Spesies          :M. Sativa
     
Alfalfa dipakai sebagai salah satu komponen hijauan pastura yang mempunyai nilai ekonomi, dimanfaatkan sebagai sumber hijauan bagi ternak kuda, sapi penggemukan dan sapi perah serta domba Alfalfa tergolong sumber hijauan pakan yang potensial dimanfaatkan untuk ternak ruminansia lantaran produksinya tinggi serta didukung nilai nutrisi yang baik. Leguminosa Medicago sative L. (alfalfa) dalam bentuk hay maupun segar biasanya diberikan untuk ransum ternak ruminansia sapi, kerbau dan kambing sebagai sumber protein yang mempunyai palatabilitas yang cukup tinggi. Kebutuhan alfalfa untuk ternak sapi kurang lebih sebanyak 3 kg/hari, dan untuk ternak kambing sebesar 179.2 g/ekor/hari.

Tabel 2. Hasil Analisa Laboratorium Tanaman Alfalfa.
Analisa SegarBerat Kering %Analisa EkstrakBerat Kering (%)
Abu13,10Abu15,00
Lemak2,70Lemak6,50
Protein32,60Protein48,70
Serat Kasar21,40Serat Kasar4,80
Sumber. IAC 2005

Turi (Sesbania grandiflora syn)

Hijauan pakan ternak Turi yaitu tumbuhan yang bisa tumbuh dengan cepat, mempunyai akar yang dangkal, serta mempunyai cabang cabang yang menggantung. Dengan kadar protein yang tinggi, tumbuhan hijau turi ini juga cukup potensial untuk pakan ruminansia serta non ruminansia. Hasil uji lab BPMSP Bekasi Tahun 2015 turi mempunyai protein bergairah 27,59%. Akan tetapi dibalik kualitas nutrisi yang cukup memuaskan, turi mengandung zat anti nutrisi yang cukup berbahaya bagi ternak jadi dalam pemberiannya butuh proses pengolahan terlebih dahulu.

Daun Lamtoro Untuk Mempercepat Pertumbuhan Induk Sapi Sebelum Melahirkan


Agar Pertambahan Berat Badan Induk Sebelum Melahirkan Lebih Tinggi dan Pedet yang Dilahirkan Lebih Bagus Berat Badannya, Gunakan Tambahan Pakan Daun Lamtoro Sebesar 37,5% dari Total Ransum
Harga pakan sangat dipengaruhi oleh tinggi-rendahnya kadar dan kualitas proteinnya. Semakin tinggi kadar dan kualitas protein, maka harga pakan tersebut semakin mahal. Dalam tiga tahun terakhir, terjadi perubahan contoh harga pakan ternak ruminansia. Harga pakan hasil ikutan agroindustri pertanian/perkebunan yang merupakan sumber energi dan/atau protein mengalami kenaikan harga cukup tinggi, melebihi tingkat kenaikan harga daging sapi; sementara itu harga pakan sumber serat berupa tumbuhan pakan ternak maupun hasil ikutan tumbuhan pertanian/perkebunan relatif tetap, tidak mengalami kenaikan harga.
Tanaman lamtoro sangat gampang ditemukan tumbuh liar didaerah pedesaan. Biasanya memang tumbuhan ini sering dipakai sebagai pakan hijauan untuk ternak terutama ternak kambing dan sebagian kecil untuk sapi. Lamtoro sebetulnya merupakan sumber protein yang cukup tinggi kalau dijadikan ransum pakan untuk ternak sapi.

Hasil penelitian menawarkan bahwa ternak sapi yang berupa sapi indukan dikala bunting dan menjelang melahirkan diberikan embel-embel pakan berupa lamtoro akan mempunyai pertambahan berat tubuh harian yang bagus. Satu lagi dampak positifnya yaitu pedet yang dilahirkan mempunyai berat yang bagus, hal ini sudah diujicobakan pada sapi indukan jenis PO. Tentunya tidak tertutup kemungkinan kalau lamtoro ini juga manis dipakai sebagai embel-embel pakan untuk sapi jenis lainnya menyerupai jenis metal dan limousin.

Usaha perbibitan sapi potong cukup banyak dilakukan oleh masyarakat pedesaan yang mempunyai modal minim. Sapi dianggap sebagai tabungan yang setiap dikala sanggup dijual kalau ada kebutuhan yang mendesak. Jumlah sapi induk yang dipelihara setiap rumah tangga peternak antara 2-4 ekor. Pendapatan peternak dari memelihara sapi induk yaitu pada dikala pedet sudah disapih dan siap untuk dijual.

Beberapa permasalahan yang ditemui yaitu kurangnya nutrisi pakan yang diberikan sehingga berdampak pada terlambatnya pertumbuhan pedet pra sapih dan usang birahi kembali sesudah melahirkan. Salah satu solusi yang sanggup dilakukan yaitu dengan melaksanakan kombinasi pakan kualitas rendah (protein rendah) menyerupai jerami padi, rumput kering, dan jerami jagung dengan pakan kualitas tinggi (protein tinggi) menyerupai lamtoro yang murah dan gampang diperoleh.

Metode penambahan pakan lamtoro sebesar 37,5 % materi kering dari total ransum sanggup meningkatkan pertambahan bobot harian induk sebelum dan sesudah beranak serta pedet yang dihasilkan. Lama birahi kembali induk pasca beranak lebih pendek yaitu kurang dari 90 hari.

Sumber: http://lolitsapi.litbang.pertanian.go.id

Kandungan Gizi Ampas Tahu Yang Bermanfaat Untuk Ternak Dan Ikan

Ampas Tahu Sumber Protein Untuk Ternak dan Ikan
Bahan Baku Pakan Ternak Sumber Protein Untuk Makanan Ikan dan Ternak, Ampas Tahu Memiliki Kandungan Protein Kasar Hingga 21%
Ampas tahu ialah sisa atau limbah dari pengolahan tahu. Umumnya, ampas tahu ini digunakan oleh masyarakat hanya sebagai pakan ternak dan pakan ikan. Hal ini disebabkan lantaran ampas tahu mengandung banyak gizi yang bermanfaat bagi tubuh ternak dan ikan, terutama sebagai sumber protein.
Barang limbah industri pangan, sebagai teladan ampas tahu, tidak selamanya merugikan atau tidak berguna. Hanya saja bagaimana kita sanggup mensiasati limbah tadi menjadi sesuatu yang berguna. Oleh lantaran itu bergotong-royong limbah limbah atau sisa sisa hasil produksi yang masih dinilai kurang mempunyai nilai hemat dengan sedikit fatwa maka akan bermetamorfosis barang yang mempunyai nilai ekonomis.seperti halnya ampas tahu, dahulu dipandang sebelah mata tetapi kini punya nilai jual. Hal ini menguntungkan bagi semua pihak, bagi pemilik pabrik pembuat tahu sanggup uang embel-embel dari sisa produksi tahu (ampas tahu) yang dulunya dibuang, dan bagi peternak beruntung lantaran sanggup menerima pakan ternak murah dengan kandungan protein tinggi.

Komposisi zat-zat masakan ampas tahu


Bahan
BK
PrK
Serat kasar
Lemak kasar
NDF
ADF
Abu
Ca
P
Eb

%
%
%
%
%
%
%
%
%
%
Ampas tahu
13,3
21,0
23,58
10,49
51,93
25,63
2,96
0,53
0,24
47,30
Sumber: Pulungan, dkk., (1985)
*) Sutardi dkk, 1976
**) Arianto (1983)

Salah satu materi pakan yang sanggup dimanfaatkan sebagai materi penyusun ransum ialah ampas tahu. Ampas tahu merupakan sisa hasil pembuatan tahu yang mempunyai kandungan gizi yang cukup baik dengan protein garang sekitar 21,29% (Airirsyah, 2001). Menurut Sudigdo (1983), ampas tahu sanggup diawetkan dengan mengubahnya menjadi tepung. 
Prabowo dkk., (1983) menyatakan bahwa protein ampas tahu mempunyai nilai biologis lebih tinggi daripada protein biji kedelai dalam keadaan mentah, lantaran materi ini berasal dari kedelai yang telah dimasak. Ampas tahu juga mengandung unsur-unsur mineral mikro maupun makro yaitu untuk mikro; Fe 200-500 ppm, Mn 30-100 ppm, Cu 5-15 ppm, Co kurang dari 1 ppm, Zn lebih dari 50 ppm (Sumardi dan Patuan, 1983). Di samping mempunyai kandungan zat gizi yang baik, ampas tahu juga mempunyai antinutrisi berupa asam fitat yang akan mengganggu perembesan mineral bervalensi 2 terutama mineral Ca, Zn, Co, Mg, dan Cu, sehingga penggunaannya untuk unggas perlu hati-hati (Cullison, 1978).
Ampas tahu diperoleh dari hasil pembuatan tahu yang dimulai dari perendaman kedelai selama 24 jam, kemudian dicuci dan digiling. Hasil gilingan kedelai itu merupakan bubur pada proses pembuatan tahu yang kemudian dimasak lebih kurang 10 menit dan disaring sehingga diperoleh potongan filtrat yang berupa susu kedelai dan ampas tahu (Sudigno, 1983). 

Ampas tahu dalam bentuk aslinya sanggup mengakibatkan dampak atau permasalahan lingkungan lantaran hasil degradasinya sanggup mengakibatkan persenyawaan yang berbau busuk jikalau ampas tahu tidak dimanfaatkan.
Potensi ampas tahu cukup tinggi, kacang kedelai di Indonesia tercatat pada Tahun 1999 sebanyak 1.306.253 ton, sedangkan Jawa Barat sebanyak 85.988 ton. Bila 50% kacang kedelai tersebut digunakan untuk menciptakan tahu dan konversi kacang kedelai menjadi ampas tahu sebesar 100-112%, maka jumlah ampas tahu tercatat 731.501,5 ton secara nasional dan 48.153 ton di Jawa Barat. Potensi ini cukup menjanjikan sebagai materi pakan ternak. 

Ampas tahu merupakan limbah dalam bentuk padatan dari bubur kedelai yang diperas dan tidak berkhasiat lagi dalam pembuatan tahu dan cukup potensial digunakan sebagai materi masakan ternak lantaran ampas tahu masih mengandung gizi yang baik dan sanggup digunakan sebagai ransum ternak besar dan kecil. Penggunaan ampas tahu masih sangat terbatas bahkan sering sekali menjadi limbah yang tidak termanfaatkan sama sekali  (Wiriano 1985). 

Ampas tahu dalam keadaan segar berkadar air sekitar 84,5% dari bobotnya. Kadar air yang tinggi sanggup mengakibatkan umur simpannya pendek. Ampas tahu kering mengandung air sekitar 10,0-15,5%, sehingga umur simpannya lebih usang dibandingkan dengan ampas tahu segar (Widyatmoko,1996). Ampas tahu lembap akan segera menjadi asam dan busuk dalam 2-3 hari sehingga tidak disukai oleh ternak. Masalah itu sanggup ditanggulangi dengan cara menjemur di bawah panas matahari atau dimasukkan dalam oven.

Menurut Listiyowati dan Roospitasari (1992), zat-zat masakan yang dibutuhkan puyuh ialah protein, karbohidrat, lemak, vitamin, mineral, dan air. Setiap kegiatan ternak, baik itu berjalan, bernafas, bertelur, dan lain-lain membutuhkan energi. Energi dipenuhi dari karbohidrat, lemak, dan protein yang semuanya itu berasal dari masakan di dalam tubuh. Energi digunakan untuk hidup pokok, gerak otot, sintesa jaringan baru, kegiatan kerja dan menjaga temperatur tubuh. Pada binatang muda, energi diberikan untuk kebutuhan pokok, untuk membentuk protein, sedangkan pada binatang cukup umur kelebihan energi dibuat menjadi lemak (Anggorodi, 1985). Vitamin dan mineral merupakan unsur gizi yang dibutuhkan oleh tubuh dalam jumlah sedikit tetapi mutlak.

Prabowo dkk., (1983) menyatakan bahwa protein ampas tahu mempunyai nilai biologis lebih tinggi daripada protein biji kedelai dalam keadaan mentah, lantaran materi ini berasal dari kedelai yang telah dimasak. Ampas tahu juga mengandung unsur-unsur mineral mikro maupun makro yaitu untuk mikro; Fe 200-500 ppm, Mn 30-100 ppm, Cu 5-15 ppm, Co kurang dari 1 ppm, Zn lebih dari 50 ppm (Sumardi dan Patuan, 1983). Di samping mempunyai kandungan zat gizi yang baik, ampas tahu juga mempunyai antinutrisi berupa asam fitat yang akan mengganggu perembesan mineral bervalensi 2 terutama mineral Ca, Zn, Co, Mg, dan Cu, sehingga penggunaannya untuk unggas perlu hati-hati (Cullison, 1978).

Jika kita mengkaji lebih lanjut dalam ampas sisa tadi masih sanggup dimanfaatkan sebagai pakan ternak yang banyak kandungan proteinya. Saat ini belum banyak peternak yang memanfaatkan ampas tahu tadi sebagai pakan embel-embel bagi ternaknya selain konsentrat. 

Pertumbuhan ternak yang di beri pakan ampas tahu lebih cepat dari pada yang tidak diberi. Jika dikalkulasi nilai ekonomi peternak akan menerima untung yang lebih. Selama ini stok ampas tahu masih melimpah, harganyapun masih sangat murah. Lebih murah jikalau dibandingkan dengan harga konsentrat. Harganya kira kira sekitar 9-12 ribu per karung(±60-80kg). Sehingga masih sangat menguntungkan bagi para peternak. 

Peternak mengalani laba yang lebih lantaran dengan sedikit pengeluaran embel-embel buat membeli ampas tahu tetapi hasil yang di sanggup akan lebih banyak. Waktu perawatan/pertumbuhan lebih cepat lantaran asupan protein bagi ternak lebih tinggi. Ampas tahu sanggup dijadikan pakan bagi banyak sekali jenis ternak diantaranya:

Ampas Tahu Untuk Pakan Ternak Sapi
Pemanfaatan ampas tahu sangat efektif apalgi pada sapi potong pertambahan berat tubuh akan lebih cepat. Selain pertumbuhan lebih cepet karkasnya sanggup mencapai 53% dari berat sapi hidup. Biasanya pemberianya dicampur dengan bekatul diberi air dan lebih baik lagi jikalau dicampur dengan ketela yang telah di cacah maka pertambahan atau pertumbuhan akan lebih optimal. Ampas tahu merupakan sumber protein yang gampang terdegradasi di dalam rumen (Suryahadi, 1990) dengan laju degradasi sebesar 9,8% per jam dan rataan kecepatan produksi N-amonia nettonya sebesar 0,677 mM per jam (Sutardi, 1983). Penggunaan protein ampas tahu diharapkan akan lebih tinggi bila dilindungi dari degradasi dalam rumen (Suryahadi, 1990). 

Surtleff dan Aoyagi (1979) melaporkan bahwa penggunaan ampas tahu sangat baik digunakan sebagai ransum ternak sapi perah. Di Jawa Barat ampas tahu telah banyak dan sudah biasa digunakan oleh peternak sebagai masakan ternak sapi potong untuk proses penggemukan. Di Taiwan ampas tahu digunakan sebagai pakan sapi perah mencapai 2-5 kg per ekor per hari (Heng-Chu, 2004), sedangkan di Jepang penggunaan ampas tahu untuk pakan ternak terutama sapi dan babi sanggup mencapai 70% (Amaha, et al., 1996).

Pemanfaat Ampas Tahu untuk Pakan Ternak Kambing
Pemanfaatan ampas tahu sangat efektif apalgi pada kambing pertambahan berat tubuh akan lebih cepat dan juga rambut pada kambing lebih mengkilat dan halus. Pertumbuhan postur tubuh juga lebih cepat. Dengan asupan gizi dari ampas tahu maka produksi daging atau pun susu kambing akan menglami peningkatan. Knipscheer et al. (1983) melaksanakan penelitian pada kambing dan menyimpulkan bahwa pertolongan ampas tahu sanggup menawarkan laba dalam perjuangan peternakan kambing atau domba yang dipelihara secara intensif.

Bisa juga untuk Pakan Ternak Kelinci
Kelinci yang diberi pakn ampas juga mempunyai berat dan ukuran yang cukup optimum. Apalagi buat kelinci pedaging, daging yang dihasilkan lebih banyak, juga bulu menjadi lebih mengkilap dan perawatan pakan lebih praktis. Juga tidak ada imbas samping dari penggunaan ampas tahu.

Sebagai gabungan Pakan Ternak Bebek
Pada angsa pertolongan ampas sanggup diberikan sebagai pengganti konsentrat, selain harga murah ampas tahu juga mempercepat pertumbuhan angsa bebek yang kemudian juga menghasilkan daging dan telur. Dengan demikian biaya produksi telur angsa lebih ringan. Para peternak angsa sanggup menghemat beaya, lantaran dengan pakan ampas sebagai pengganti konsentrat akan menekan beaya pemeliharaan sehingga laba sanggup meningkat. Ampas tahu sanggup diberikan pada entok dalam bentuk kering (tepung) atau basah. Pemberian ampas tahu pada entok mungkin sudah dilakukan di masyarakat. Hal yang harus diperhatikan dalam penggunaan ampas tahu ialah kandungan serat kasarnya yang tinggi, jadi pemakaiannya dalam ransum harus dibatasi, lantaran bangsa unggas kurang sanggup mencerna serat garang dan bila kelebihan sanggup kuat jelek pada performan. Performan biasa dimanifestasikan dalam besarnya konsumsi ransum, pertambahan bobot badan, dan konversi ransum. Pada hasil penelitian sanggup dilihat bahwa pada perlakuan ransum yang mengandung tepung ampas tahu 30% dengan kandungan serat garang ransum 8,87%  masih menghasilkan pertambahan bobot tubuh yang tidak berbeda dengan ransum kontrol. Hal ini membuktikan bahwa entok sanggup mentolerir kandungan serat garang ransum yang lebih tinggi dari 8%. Dengan demikian, dengan pertambahan bobot tubuh yang tidak berbeda maka tepung ampas tahu sanggup digunakan pada ransum entok sebanyak 30%.

Sebagai Tambahan Pada Pakan Ternak Puyuh
Menurut Anggorodi (1995), pada masa awal pertumbuhan burung puyuh tumbuh begitu cepat, sehingga pada umur 6 minggu burung tersebut mencapai 90-95% bobot tubuh cukup umur kelaminnya. Ditambahkan oleh Tillman dkk. (1998), bahwa pertumbuhan mempunyai tahap-tahap yang cepat dan lambat, tahap cepat terjadi pada ketika hingga pubertas dan tahap lambat terjadi pada ketika kedewasaan tubuh telah tercapai. Puyuh yang diberi ransum dengan level protein 20%, dengan energi metabolis 2900 kkal/kg akan menawarkan produksi, fertilitas dan daya tetas yang optimal dibandingkan dengan pertolongan ransum dengan banyak sekali level. 

Pemberian ampas tahu hingga 10% tidak mempengaruhi palatabilitas pakan dan tidak menurunkan berat badan. Kesegaran dan palatabilitas serta tingkat energi dalam ransum memilih banyaknya masakan yang dikonsumsi. Telur yang dihasilkan pun beratnya semakin meningkat seiring dengan bertambahnya umur induk.

Menurut wahyu (1992), pertumbuhan dipengaruhi oleh jumlah ransum yang dikonsumsi dan kualitas ransum itu sendiri. Pertambahan berat tubuh sangat dipengaruhi oleh kualitas dan kuantitas pakan yang diberikan. 

Hal ini menandakan pertolongan ampas tahu hingga 10% masih cukup palatabel dan tidak mengurangi efisiensi pakan serta konsumsi ransum. Menurut Rasyaf (1985), mineral-mineral yang dibutuhkan oleh puyuh ialah Ca, P, Na, dan Mg. Mineral Ca dan P berperan dalam pembentukan tulang pada ketika puyuh sedang tumbuh, dan berperan juga dalam pembentukan kulit telur pada puyuh yang sedang berproduksi. Ransum puyuh mengandung 0,8% phospor dan 2,53% kalsium akan menawarkan produksi telur maksimum sebesar 90% dan daya tetas yang baik, dibandingkan dengan ransum puyuh yang mengandung phospor 0,8% dan kalsium 1-2%.

Dapat Dimanfaatkan Sebagai Pakan Ternak Bandeng
Saat ini belum banyak yang memakai ampas sebagai pakan bandeng tetapi para pengelola tambak bandeng diderah pesisir utara sudah mulai memakai alasanya harga pellet melambung untuk menghemat pengeluaran digunakan ampas tahu.


Ampas Tahu Sangat Bermanfaat Sebagai Pakan Ternak
Mahalnya harga ransum yang akan diberikan terhadap ternak sanggup disiasati dengan menciptakan ransum sendiri dengan materi yang gampang diperoleh, harga lebih murah, mempunyai kandungan gizi yang cukup baik, dan juga tidak mengganggu produksi serta kesehatan ternak itu sendiri.

Penggunaan tepung ampas tahu hingga level 10% pada ternak puyuh tidak menawarkan imbas negatif terhadap performans puyuh serta produksi telur puyuh. Pada ternak entok pun penggunaan tepung ampas tahu sebanyak 30% tidak menawarkan imbas negatif. Namun demikian, pertolongan ampas tahu sebesar 30% dalam ransum menghasilkan performan entok yang terbaik ditunjukkan dengan nilai konversi ransum yang paling efisien. Dan pada ternak ruminansia, pertolongan ampas tahu sebagai ransum menawarkan imbas yang baik terhadap performans ternak ruminansia.

Daftar Pustaka
1.      Tarmidi, A.R. 2009. Penggunaan Ampas Tahu dan Pengaruhnya pada Pakan Ruminansia. Karya Ilmiah. Universitas Padjadjaran.
2.      Tanwiriah, Wiwin, dkk. 2009. Pengaruh Tingkat Pemberian Ampas Tahu dalam Ransum terhadap Performan Entok (Muscovy Duck) pada Periode Pertumbuhan. Karya Ilmiah. Fakultas Peternakan, Universitas Padjadjaran.
3.      Suparyanto. 2000. Pengaruh Pemberian Tepung Ampas Tahu dalam Ransum terhadap Produksi Telur Puyuh (Coturnix-coturnix japonica) Umur 20-32 minggu. Skipsi. Jurusan Peternakan, Universitas Bengkulu.
4.      Syaiful, F. L. 2000. Pengaruh Pemberian Tepung Ampas Tahu dalam Pakan terhadap Performans Puyuh (Coturnix-coturnix japonica) Umur 1-6 minggu. Skipsi. Jurusan Peternakan, Universitas Bengkulu.
5.      Purbosrianto, Titis. 2009. Pemanfaatan Ampas Tahu untuk Pakan Ternak. Artikel Ilmiah.
6.      Tarmidi, Ana. R. 2010. Penggunaan Ampas Tahu dan Pengaruhnya pada Pakan Ruminansia. Artikel Ilmiah.
7.      Dijaya, A.S. 2003. Penggemukan Itik Jantan Potong. Penebar Swadaya. Cetakan Pertama. Jakarta.
Sumber: DISNAK JATIM
Bonus:
Cara Membuat Pakan Lele dari Ampas Tahu:
Berikut ini ialah langkah-langkah dalam menciptakan pakan lele alternatif dari ampas tahu. Bahan-bahan yang diperlukan
  1. Ampas Tahu ±5 Kg
  2. Dedak Halus ±5 Kg
  3. Tepung Ikan ±1 Kg
  4. Tetes Tebu/Molase 1 liter
  5. Probiotik 200 ml
  6. Ragi Tempe ±2 sdm
Cammpurkan seluruh materi dan aduk rata. Selanjutnya masukkan ke dalam kawasan penyimpanan (drum/ember). Tutup kawasan penyimpanan dengan menawarkan lubang udara memakai selang yang ujungnya di tutup dengan plastik atau bekas air mineral dan jangan terlalu rapat untuk memungkinkan keluar masuknya udara. Simpan secara 5 hari untuk melaksanakan fermentasi.
Setelah 5 hari, pakan lele alternatif dari ampas tahu ini sudah bsa diberikan kepada lele dengan beberapa ketentuan berikut:
  1. Bisa diberikan eksklusif ke Lele dengan cara dikepalkan sehingga lele sanggup mengkonsumsi secara langsung
  2. Disarankan diberikan ke Lele yang umurnya diatas 1 bulan dari penebaran ukuran benih 5-7, sebelumnya sanggup diberikan dari hasil fermentasi dan pakan alami pupuk kandang
  3. Pemberiannya jangan bersamaan dengan pertolongan pellet ikan
  4. Prosentase pertolongan 5% dari Biomas Ikan (1,5 – 2 kali jumlah pertolongan pakan Pellet).
  5. Frekuensi pertolongan pakan lele organik dari ampas tahu ini sanggup 2 – 3 kali sehari diberikan pada pagi/siang hari
(Sumber: matapencaharian.com)

Tips Cara Menyimpan Ampas Tahu Dan Ampas Bir Biar Tahan Lama

Ampas Bir
Ampas Tahu

Mengenal Bahan Baku Pakan Ternak Berupa Ampas Tahu dan Ampas Bir

Ampas tahu telah usang dipakai sebagai pakan ternak sapi andalan peternak sapi lokal. Kandungan nutrisi dari ampas tahu memang baik untuk mendukung perjuangan penggemukan sapi tetapi ada hambatan umum ihwal ampas tahu ini yaitu tidak sanggup usang disimpan. Demikian juga dengan ampas bir termasuk materi baku pakan ternak yang tidak tahan usang disimpan lantaran akan membusuk dan menimbulkan anyir yang tidak sedap. Bagaimana cara semoga ampas tahu dan ampas bir sanggup lebih tahan usang ketika disimpan?
Ampas tahu merupakan limbah dari pembuatan tahu. Bahan utama pembuatan tahu yaitu kacang kedelai (Glycine max Merr) dengan kandungan protein sekitar 33-42% dan kadar lemak 18-22% (Rachtamianto, 1974). Sedangkan ampas bir yaitu limbah dari pabrik bir. Bir dibentuk dari materi baku yang terdiri dari gandum, beras dan jagung. Untuk setiap kilogram materi baku akan menghasilkan limbah yang sama banyaknya yaitu satu kilogram. Ampas bir cukup disukai ternak, dan mengandung kadar Protein Hingga 33% ketika ampas bir dalam keadaan yang baik.
Tips Cara Menggunakan dan Menyimpan Ampas Tahu dan Ampas Bir Agar Tahan Lama

Karena dalam kondisi basah, kadar air ampas tahu 80-an% dan ampas bir 70-an%, kesannya daya simpannya sangat pendek, paling usang 3 hari saja. Selanjutnya sudah niscaya busuk.

Kalau belinya dalam jumlah banyak dimana berdasarkan perhitungan pemakaiannya habis dalam tempo 10 - 14 hari, maka sangat beresiko busuk, pasti, kalau tanpa perlakuan.

TEKNIK
Sekarang saya ceritakan pengalaman pribadi cara mengatasinya, yaitu sekalian saja difermentasi secara tertutup. Sebelumnya, disiapkan formula konsentrat dengan materi baku menggunakan ampas bir dan atau ampas tahu. Bila keberadaan tidak bersamaan, memang lebih gampang mengatasinya.

AMPAS BIR
1. Siapkan formula dimana porsi ampas bir sama dengan porsi katul. Total jumlah formula konsentrat 500 kg
Porsinya :
a) ampas bir lembap ... 145 kg;
b) katul ...150 kg
c) air 4 liter + probiotika cair (Win_Prob) 1 liter = 5 liter.
Sub total 300 kg. Sisanya yang 200 kg diisi materi lain-lain;

2. Campur di dalam mixer kedua materi tersebut 295 kg + larutan probiotika 5 liter = 300 kg;

3. Setelah tercampur homogen, cek kadar air dengan cara diambil segenggam. Digenggam kuat. Kemudian genggaman dibuka. Bila menggumpal tetapi di telapak tangan tidak berair, itu tandanya kadar air yang sudah sempurna untuk dilanjutkan ke tahap fermentaai tertutup, yaitu antara 25 - 30%.
3.1. Bila menggumpalnya 50% dan 50%-nya kepyar, kadar airnya kurang, maka tidak akan terjadi fermentasi. Tambahkan air 5- 10 liter. Dimixer ulang.
3.2. Bila menggumpal dan telapak tangan basah, kadar berlebih, maka akan terjadi pembusukan. Tambahkan katul 5 - 10 kg. Dimixer ulang.

4. Masukkan ke dalam karung atau zak kapasitas 50 kg yang telah dilapisi kantong plastik ukuran lebar 70 cm dan.panjang 110 cm sebagai inner (lapisan dalam). Sambil dipadatkan. Bobotnya sanggup disetel @ 50 kg. Kemudian plastik inner ditali pocong hingga rapat supaya kedap. Zak juga ditali rapat.

5. Selesai pekerjaan mencampur dan mengemas, sanggup disimpan dalam tempo lama. Bahkan kalau kondisinya benar-benar kedap, sanggup disimpan selama 24 bulan.

6. Saat mau menciptakan konsentrat, tinggal menambahkan bahan-bahan lain yang 200 kg, kekurangannya dari 500 kg;

7. Bila pribadi mau dibentuk pakan komplit untuk sapi potong penggemukan dengan bobot tubuh >300 kg, konsentrat 500 kg + rumput yang telah dilayukan dan sudah di-choper pendek-pendek 400 kg + air 100 liter. Total menjadi 1.000 kg.

8. Pakan komplit sanggup diberikan pribadi ke sapi. Tetapi seyogyanya difermentasi dulu secara tertutup selama minimum 4 minggu.
Tujuannya supaya nilai gizi pakan komplit meningkat secara signifikan (quality booster). Peningkatan itu disebabkan turunnya serat bernafsu (SK) - selulosa, hemi selulosa - dan serat sangat bernafsu (SSK) - lignin dan kesannya TDN meningkat. Masih sanggup bonus peningkatan kadar protein.
Maka, feed intake sapi akan turun 10 - 20% dibanding pakan komplit yang tidak difermentasi.

AMPAS TAHU
Karena kadar air ampas tahu >80%, maka porsinya :
1. Ampas tahu ... 120 kg;
2. Katul ... 175 kg.
3. Air 4 liter + probiotika cair (Win_Prob) 1 liter = 5 liter.
Sub total 300 kg. Sisanya yang 300 kg diisi materi lain.
Prosedur selanjutnya sama dengan di atas hingga jadi pakan komplit.

AMPAS BIR DAN AMPAS TAHU BERSAMAAN

Porsinya :
1. Ampas bir ...... 85 kg;
2. Ampas tahu ... 60 kg;
3. Katul kering ...150 kg.
4. Air 4 liter + pribiotika cair (Win_Prob) 1 liter = 5 liter.
Sub total 300 kg. Sisanya yang 200 kg diisi materi lain.

Prosedur selanjutnya sama dengan di atas.
Campuran ampas bir dan ampas tahu ini, nilai gizinya lebih baik. Saling melengkapi.

Sumber Prof. Mukti Abadi

Wednesday, July 8, 2015

Hijauan Pakan Ternak Unggul: Perbedaan Rumput Odot, Gajah Dan Rumput Raja, Jenis Apa Yang Lebih Unggul?


Ciri-ciri Rumput Odot, Gajah dan Rumput Raja, Kemampuan Produksi, Umur Panen, Kandungan Nutrisi, Palatabilitas, Keunggulan dan Kelemahannya, Bagaimana Cara Menanamnya?

Jenis-jenis rumput unggul yang bisa digunakan sebagai pakan sapi, kambing, domba, kerbau dan kuda memang banyak sekali. Hijauan pakan ternak yang berupa rumput merupakan komponen pakan yang wajib ada pada ternak ruminansia, meskipun tidak dalam wujud materi segar menyerupai silase atau juga hay atau bahkan jerami kering yang berupa jerami padi maupun jerami kangkung dan jerami kacang tanah bisa ditambahkan dalam pakan ternak sapi sebagai penyedia serat bergairah yang sangat diperlukan dalam sistem pencernaan ternak ruminansia.

Ada jenis rumput unggul yang ketika ini sedang naik daun yaitu rumput odot yang sudah mulai dikembangkan dimana-mana. Sebenarnya apa saja keunggulan rumput odot ini jikalau dibandingkan dengan rumput jenis lainnya sehingga layak dikembangkan sebagai pakan ternak yang berkualitas dari segi nutrisi dan juga gampang dikembangkan secara kuantitasnya alasannya ialah pertumbuhannya yang cepat. Rumput odot juga dikenal mempunyai palatabilitas yang sangat tinggi alasannya ialah batangnya yang lunak jikalau dibanding rumput gajah maupun rumput raja.

Agar lebih terperinci sebaiknya kita bandingkan apa saja ciri-ciri, abjad dan juga kemampuan produksi serta keunggulan dari tiga jenis rumput yang termasuk rumput unggul tersebut.

Rumput Odot / Napier Grass

Dengan keunggulan bisa dikembangkan dengan dua macam cara yaitu dengan memakai batangnya dan juga bisa memakai rumpunnya.
Rumput gajah odot atau rumput mott elephant ialah rumput tahan banting menghadapi segala kondisi. Pada demam isu panas ketika sapi atau domba membutuhkan hijauan berkualitas, rumput ini menjadi incaran para peternak. Rumput gajah odot bisa bertahan hidup di kondisi sulit air sekalipun.
Ciri-Ciri Rumput Gajah Odot:
  • Pertumbuhan cepat
  • Tumbuh berumpun dan bertunas atau rhizoma
  • Perakaran berpengaruh dan dalam
  • Daun dan batang halus tidak berbulu
  • Batang lunak gampang dimakan ternak
Rumput odot anggun diberikan untuk sapi/kambing/domba sesudah menempuh perjalanan jauh atau ternak yang mengalami dehidrasi. Rumput odot mempunyai kadar air lebih tinggi hingga diatas 80% dengan kandungan protein materi segar diatas 14%, sehingga sangat membantu untuk menghilangkan kehilangan cairan tubuh sekaligus memperlihatkan energi dan protein yang cukup untuk rekondisi, ditambah teksturnya yang empuk menciptakan ternak lahap memakan rumput tersebut. Semakin banyak makan, cairan badan makin stabil, rekondisi makin cepat.

Kandungan Nutrisi Rumput Gajah Odot:
  • Protein bergairah 14 %
  • Protein bergairah daun 14.35%
  • Protein bergairah batang 8.1 %
  • Kadar lemak bergairah daun 2.72%
  • Kadar lemak bergairah batang 0.91
  • Digestibility daun 72.68%
  • Digestibility batang 62.56%
Cara Menanam Rumput Odot :

1. Penanaman dengan stek batang
Bibit odot dari ruas/batang dipotong sepanjang 15-20 cm kemudian benamkan ke lahan bisa dengan posisi tegak lurus ataupun miring. Sebelum dilakukan penanaman sebaiknya lahan diberikan pupuk dasar yaitu pupuk sangkar baik dari kotoran sapi, kambing, ataupun ayam sekitar 7 hari sebelum penanaman. Sebaiknya lokasi lahan cukup untuk mendapatkan sinar matahari.

2. Pola Tanam
Monokultur artinya pada lahan hanya ditanami rumput gajah odot saja.
Tanaman Sela, alasannya ialah tumbuhan ini ukurannya lebih pendek rumput ini bisa ditanam sebagai tumbuhan sela dikombinasikan dengan hijauan pakan yang lain, dipematang sawah atau disela sela tumbuhan perkebunan dengan memperhatikan intensitas matahari.
Rumput ini juga bisa digunakan untuk menahan abrasi lahan dengan penanaman pada tanah.

3. Cara Penanaman
Bersihkan lahan yang akan ditanami rumput dari tumbuhan gulma dan semak belukar.
Buat gundukan tanah lebar 60-80 cm dengan tinggi 20 cm.
Tanam bbit rumput berupa stek dengan 2 ruas ditanam didalam tanah di tengah gundukan dan satu ruas diluar.
Jarak tumbuhan dalam barisan 50-75 cm, jarak tanam antar barisan 75-150 cm.

4. Pemupukan
Untuk pupuk dasar, berikan dan campur dengan pupuk sangkar dengan jumlah 3 ton/ha.
Jika ingin mempercepat pertumbuhan sanggup dilakukan pemupukan pada umur 15 hari sesudah tanam dengan pupuk urea atau dengan pupuk NPK sebanyak 60 kg / Ha.
Pupuk cair (urine ternak) sapi/kambing/kelinci fermentasi juga sanggup digunakan sebagai materi pupuk cair untuk pemupukan dengan aplikasi disemprot ke tumbuhan tanah .

5. Pemanenan
Pertama kali penanaman rumput odot bisa dipanen pada umur sekitar 60 hari.
Ciri rumput yang sudah sanggup dipanen ialah adanya ruas batang yang sudah berukuran 15 cm.
Umur panen pada demam isu penghujan 35-45 hari, pada demam isu kemarau 40-50 hari.
Potong pendek sejajar dengan tanah.
Untuk pemanenan pertama kali sebaiknya dipanen lebih dari 60 hari atau dinantikan batangnya hingga dengan 30– 40 cm.

Tingginya produktifitas ini alasannya ialah si rumput ‘tahan banting’ ini juga memeiliki banyak anakan. Awal panen jumlah anakan per rumpun kisaran 26 tunas, selanjunya sanggup mencapai lebih dari 200 tunas. Sama halnya dengan jenis rumput lain, ketika panen rumput gajah odot di umur 35 hingga 45 hari pada demam isu penghujan. “Kalau demam isu kering, panen kira-kira 40 hingga 50 hari,” kata pembudi daya rumput gajah odot di Rembang, Jawa Tengah.

Membudidaykana tumbuhan ini pun mudah. Diawalai dengan memberi pupuk dasar pada lahan yang akan ditanamai rumput gajah odot. Pemupukan sanggup dilakukan dengan pemanfaatan pupuk kandang. Per-hektar lahan hanya membutuhkan 3 ton. Selanjutnya penanaman rumput gajah odot salah satunya dengan stek bibit. Bibit sepajang 15 hingga 25 cm, sepertiga bab dalam tanah.

Jika tinggi sudah mencapai 50 hingga 100 cm, rumput gajah odot ini sanggup dipanen. Daun yang lembut, ruas batang yang cenderung empuk, menyebabkan rumput ini banyak digemari peternak sapi dan domba. Adalah Bapak Odot yang mempopulerkan salah satu rumput yang dikembangkan di Florida, Amerika Serikat untuk di budidaya di Indonesia. Dari sana lah masyarakat mengenal rumput ini dengan sebutan rumput gajah odot.

Kelebihan lain dari rumput gajah odot, mempunyai tinggi yang sesuai dengan tinggi rata-rata oorang Indonesia. Hal ini memudahkan para pembudidaya untuk memanen. Lembutnya daun dan empuknya batang, menyebabkan peternak lebih efisiesn. Tidak perlu memakai mesin pencacah untuk memotong-motong rumput ini. Terlebih, rumput gajah odot ini memeliki kandungan nutrisi yang tinggi. Protein bergairah yang terkandung di dalamnya sebesar 14 %, sangat pas untuk diberikan sebagai masakan ternak (pakan) sapi dan domba.

Rumput Raja / Kolonjono
Rumput kolonjono mempunyai nama lain Brachiaria mutica, Panicum muticum, Para grass, dan Buffalo grass. Rumput kolonjono berasal dari Afrika dan Amerika Selatan tropik, kini rumput ini tersebar sebagai masakan ternak didaerah tropik berair dan sub tropik. Rumput tumbuh paling baik pada tanah yang berair dan tahan terhadap genangan air, tetapi tumbuhnya terhambat pada demam isu kemarau. Rumput kolonjono dipergunakan sebagai rumput pecahan untuk masakan ternak, hay atau disenggut ternak dan penggembalaan harus dilakukan secara rotasi, alasannya ialah tidak taham penggembalaan berat. Rumput sanggup dipotong tiap 6-8 ahad (Reksohadiprojo, 1985).
Rumput raja yang sering juga disebut rumput kalanjana (kolonjono) berasal dari Afrikasi Selatan. Rumput ini hasil kawin silang antara rumput gajah dengan rumput pennisetum tydoides Burn. Sehingga rumput raja menyerupai dengan rumput gajah. Namun rumput raja mempunyai keunggulan yaitu gampang ditanam, sanggup tumbuh di tempat yang mempunyai ketinggian hingga 1500 meter dpl. Yang paling penting ialah produksi rumputnya lebih tinggi dibanding rumput gajah.

Klasifikasi Rumput Raja
Kingdom : Angiospermae
Class : Monocotyledoneae
Ordo : Graminales
Family : Graminaceae
Genus : Pennisetum
Species : P. purpureum

Ciri-Ciri Rumput Raja
  • Berasal dari bibit unggul
  • Tumbuh tegak dan berumpun mencapai 4 meter
  • Batang tebal dan keras serta berbulu halus
  • Produksi tinggi mencapai 40 ton rumput segar/hektar
  • Jika dipotong akan tumbuh lagi.
Cara pemotongan rumput raja hampir sama dengan rumput gajah dimana pemotongan harus menyisakan sekitar 10-15 cm dari tanah semoga rumput sanggup tumbuh kembali dari pada selang beberapa ahad sudah bisa dipotong kembali.


Manfaat rumput gajah sebagai hijauan masakan ternak mempunyai kandungan protein cukup besar dibanding rumput gajah.
Tabel Kandungan Nutrisi Rumput Raja
Nama
PK (%)
LK (%)
BETN (%)
Abu (%)
Ca (%)
P (%)
Rumput Raja
13,5
3,5
59,7
18,6
0,37
0,35

Rumput Gajah / Pennisetum purpureum
Rumput gajah ialah rumput berukuran besar bernutrisi tinggi yang biasanya digunakan sebagai pakan ternak menyerupai sapi, kambing, gajah, dll. Rumput gajah banyak dibudidayakan di Afrika alasannya ialah ketahanannya terhadap cuaca panas. (Wikipedia)
Nama latin dari rumput gajah ialah Pennisetum purpureum yang merupakan hijauan pakan ternak yang mempunyai kualitas nutrisi tinggi. Asal mulanya dari Afrika yang mempunyai iklim tropic dan tumbuh dengan baik di tempat dengan ketinggian mencapai 2000 meter dpl. Rumput gajah tergolong jenis rumput unggul alasannya ialah gampang ditanam dan tahan terhadap kekeringan, sehingga sanggup mendapatkan amanah dalam ketersediaan sumber pakan dikala demam isu kemarau.

Klasifikasi Rumput Gajah
  • Phylum : Spermatophyta
  • Sub phylum : Angiospermae
  • Class : Monocotyl
  • Ordo : Glumiflora
  • Family : Graminae
  • Sub Family : Panicoldea
  • Genus : Pennisetum
  • Spesies : P. Purpureum
Ciri-Ciri Rumput Gajah
  • Tumbuh dengan cara berumpun dengan perakaran serabut
  • Tinggi batang 3-4,5 meter tebal dan keras
  • Daun berbulu pendek dan berujung runcing
  • Panjang daun 16-90 dan lebar 8-35 cm
  • berbunga menyerupai es lilin
  • Jika dipotong sanggup tumbuh lagi
Manfaat rumput gajah yaitu sebagai hijauan pakan ternak yang disukai oleh ternak ruminansia menyerupai sapi, kerbau, dan domba. Manfaat lainnya sebagai penahan erosi.

Tabel kandungan nutrisi Rumput Gajah
Nama PK LK SK BETN Abu SK
Rumput Gajah 10,3 % 1,6 % 3,4 % 42,3 % 11,7 % 34,2 %

Referensi:
http://id.wikipedia.org/wiki/Rumput_gajah
http://www.bbppkupang.info/
http://www.situs-peternakan.com

dan sumber-sumber lainnya