Showing posts with label Sapi. Show all posts
Showing posts with label Sapi. Show all posts

Thursday, July 9, 2015

Harga Sapi Madura Terbaru 2018 Bulan Maret - April


Berapa Harga Sapi Madura Saat Ini? Dan Berapa Estimasi Harga Saat Hari Raya Kurban?

Sapi Madura ialah jenis sapi dengan tulang kecil yang mempunyai ukuran yang termasuk dalam kelompok sapi-sapi bertubuh kecil. Sapi Madura yang siap potong biasanya hanya mempunyai berat sekitar 250 - 350 kg dan dengan berat tersebut umur sapi-sapi ini sudah tergolong dewasa.

Harga sapi Madura umumnya akan mengalami kenaikkan yang cukup signifikan ketika menjelang hari raya Idul Adha. Hal ini alasannya sapi Madura ialah salah satu jenis sapi yang sangat diminati untuk kurban.

Dengan berat sapi di kisaran 250 - 300 kg dan harga jual sekitar Rp 12.000.000 - 18.000.000 per ekor maka harga sapi ini sangat sesuai dengan budget kebanyakan dari mereka yang ingin berkurban seekor sapi.

Dengan perhitungan sapi 1 ekor sanggup dipakai untuk berkurban 7 orang maka biaya per orang dengan membeli sapi madura hanya berkisar 2 jutaan per orang.
Untuk sapi bakalan biasanya dicari sapi Madura dengan berat berkisar antara 150 - 200 kg dengan harga sekitar Rp 8.000.000 - Rp 10.000.000 per ekor.
Untuk sapi potong gotong royong sapi Madura memang tidak sepopuler sapi jenis limousin maupun simental. Disamping alasannya tidak semua pasar binatang di Jawa Timur terdapat sapi Madura, sapi ini memang lebih terkenal sebagai sapi kurban.

Harga sapi Madura untuk kepingan jagal masih berkisar antara Rp 13.000.000 - Rp 19.000.000 per ekor tergantung dengan besar kecil sapinya.
Estimasi Harga Sapi Madura untuk Kurban yang paling disukai ialah antara Rp 14.000.000 - Rp 16.000.000 per ekor.
Sapi Madura umumnya hanya diminati oleh jagal-jagal yang memang hanya membutuhkan sapi kecil alasannya omset penjualan dagingnya yang memang sedikit dan biasanya mereka menjual daging yang benar-benar murni tanpa lemak.

Pasar binatang yang sanggup dikunjungi untuk berbelanja sapi Madura tentunya yang paling gampang ialah di pasar binatang pulau Madura sebagai sumber utama sapi Madura menyerupai di Tanah Merah, di Bangkalan dan di Sumenep.

Tetapi bila kita tidak sempat ke pulau Madura maka sanggup berbelanja di Pasar binatang di Jawa Timur menyerupai di Probolinggo yaitu di pasar binatang Wonoasih - Kedopok dan sanggup juga di pasar binatang Banyuanyar.

Untuk hari pasarannya ialah hari Selasa dan Sabtu untuk pasar binatang Wonoasih dengan jam operasionalnya mulai pukul 2 siang hingga pukul 8 malam. Sedangkan di pasar binatang Banyuanyar mulai pukul 1 siang hingga pukul 6 sore dan hanya buka setiap hari Rabu. Jam operasional bersifat fleksibel, ketika transaksi banyak dalam arti pembeli banyak dan populasi sapi jual juga banyak maka jam operasional sanggup lebih usang lagi.

Jenis-Jenis Ternak Sapi Perah Penghasil Susu Berkualitas


Macam-macam Jenis Sapi Perah Unggul Di Dunia
Sapi susu atau sapi perah ialah sapi yang dikembangbiakan secara khusus alasannya ialah kemampuannya dalam menghasilkan susu dalam jumlah besar. Sapi susu ialah varietas dari spesies Bos taurus.
Banyak bangsa sapi daging yang dikembangkan untuk tujuan ganda (susu dan daging) atau bahkan untuk tujuan yang lebih luas lagi yaitu susu, daging, dan tenaga. Beberapa bangsa masih memperlihatkan perbedaan sedangkan yang lainnya telah diseleksi untuk sifat-sifat ternak daging atau ternak perah saja (Blakely,1991).
Bangsa sapi perah di Indonesia sanggup dikatakan tidak ada. Sapi perah di Indonesia berasal dari sapi impor dan hasil dari persilangan sapi impor dengan sapi local. Pada tahun 1955 di Indonesia terdapat sekitar 200000 ekor sapi perah dan hamper seluruhnya merupakan sapi FH dan keturunannya (Prihadi,1997). Produksi susu sapi FH di Indonesia tidak setinggi di tempat asalnya. Hal ini banyak dipengaruhi oleh factor antara lain iklim, kualitas pakan, seleksi yang kurang ketat, administrasi dan mungkin juga sapi yang dikirim ke Indonesia kualitas genetiknya tidak sebaik yang diternakkan dinegeri asalnya. Sapi FH murni yang ada di Indonesia rata-rata produksi susunya sekitar 10 liter per hari dengan calving interval 12-15 bulan dan usang laktasi kurang lebih 10 bulan atau produksi susu rata-rata 2500-3000 liter per laktasi (Prihadi,1997).

Hasil persilangan antara sapi lokal dengan sapi FH sering disebut sapi PFH (Peranakan Friesian Holstein). Sapi ini banyak dipelihara rakyat terutama di tempat Boyolali, Solo, Ungaran, Semarang, dan Jogjakarta. Juga sanggup dijumpai didaerah Pujon, Batu, Malang,dan sekitarnya. Warna sapi PFH ibarat sapi FH tetapi sering dijumpai warna yang menyimpang contohnya warna bulu kipas ekor hitam, kuku berwarna hitam dan bentuk tubuhnya masih memperlihatkan bentuk sapi local, kadang kala masih terlihat adanya gumba yang meninggi (Prihadi,1997).


Jenis Sapi Perah Subtropics


Ayrshire. 
Bangsa sapi Ayrshire dikembangkan di tempat Ayr, yaitu di tempat belahan barat Skotlandia. Wilayah tersebut cuek dan lembab, padang rumput relative tidak banyak tersedia. Dengan demikian maka ternak terseleksi secara alamiah akan ketahanan dan kesanggupannya untuk merumput (Blakely,1991).


Pola warna bangsa sapi Ayrshire bervariasi dari merah dan putih hingga warna mahagoni dan putih. Bangsa sapi ini lebih bersifat gugup atau terkejut bila dibandingkan dengan bangsa-bangsa yang lain. Para peternak dahulu nampak masih berhati-hati dalam perjuangan mereka dalam melaksanakan seleksi kearah tipe yang bagus. Hasil itu masih nampak dalam gaya penampilan, simetri, perlekatan ambing yang nampak, disamping kehalusan dan kebersihannya sebagai tipe perah. Sapi Ayrshire hanya termasuk dalam peringkat sedang dari sudut daging serta pedet yang dilahirkan. Rata-rata bobot tubuh sapi betina remaja 1250 pound dan sapi jantan mencapai 1600-2300 pound. Produksi susu berdasarkan DHIA (1965/1966) rata-rata 10312 pound dengan kadar lemak 4% (Prihadi,1997).


Brown Swiss. 
Bangsa sapi Brown Swiss banyak dikembangkan dilereng-lereng pegunungan di Swiss. Sapi ini merumput di kaki-kaki gunung pada ketika animo semi hingga lereng yang paling tinggi ketika animo panas. Keadaan alam ibarat itu melahirkan hewan-hewan yang tangguh akan kemampuan merumput yang bagus. Ukuran badannya yang besar serta lemak badannya yang berwarna putih menjadikannya sapi yang disukai untuk produksi daging (Blakely,1991).


Warna sapi Brown Swiss bervariasi mulai dari coklat muda hingga coklat gelap, serta tercatat sebagai sapi yang gampang dikendalikan dengan kecenderungan bersifat acuh. Sapi Brown Swiss dikembangkan untuk tujuan produksi keju dan daging, serta produksi susunya dalam jumlah besar dengan kandungan materi padat dan lemak yang relative tinggi. Bobot tubuh sapi betina remaja 1200-1400 pound, sedang sapi jantan Brown Swiss 1600-2400 pound. Produksi susu rata-rata mencapai 10860 pound dengan kadar lemak 4,1% dan warna lemak susunya agak putih (Blakely,1991).

Guernsey.


Bangsa sapi Guernsey dikembangkan di pulau Guernsey di Inggris. Pulau tersebut populer dengan padang rumputnya yang bagus, sehingga pada awal-awal seleksinya, sifat-sifat kemampuan merumput bukan hal penting yang terlalu diperhatikan. Sapi perah Guernsey berwarna coklat muda dengan totol-totol putih yang nampak jelas. Sapi tersebut sangat jinak, tetapi alasannya ialah lemak badannya yang berwarna kekuningan serta ukuran tubuh yang kecil menimbulkan tidak disukai untuk produksi susu dengan warna kuning yang mencerminkan kadar karoten yang cukup tinggi (karoten ialah pembentuk atau prekusor vitamin A). disamping itu, kadar lemak susu serta kadar materi padat susu yang tinggi. Bobot tubuh rata-rata sapi betina remaja 1100 pound dengan kisaran antar 800-1300 pound. Sedangkan bobot sapi jantan remaja sanggup mencapai 1700 pound. Produksi susu sapi Guernsey berdasarkan DHIA (1965/1966) rata-rata 9179 pound dengan kadar lemaknya 4,7% (Prihadi,1997).


Jersey. 
Sapi Jersey dikembangkan di pulau Jersey di Inggris yang terletak hanya sekitar 22 mil dari pulau Guernsey. Seperti halnya pulau Guernsey, pulau Jersey juga mempunyai padang rumput yang anggun sehingga seleksi ke arah kemampuan merumput tidak menjadi perhatian pokok. Pulau itu hasil utamanya ialah mentega, dengan demikian sapi Jersey dikembangkan untuk tujuan produksi lemak susu yang banyak, sifat yang hingga kini pun masih menjadi perhatian. Dalam masa perkembangan bangsa ini, hanya sapi-sapi yang anggun sajalah yang tetap dipelihara sehingga sapi Jersey ini masih populer alasannya ialah keseragamannya (Blakely,1991).


Susu yang berasal dari sapi yang berwarna coklat ini, warnanya kuning alasannya ialah kandungankarotennya tinggi serta persentase lemak dan materi padatnya juag tinggi. Seperti halnya sapi Guernsey, sapi Jersey tidak disukai untuk tujuan produksi daging serta pedet yang akan dipotong. Bobot sapi betina remaja antara 800-1100 pound. Produksi susu sapi Jersey tidak begitu tinggi, berdasarkan standar DHIA (1965/1966) rata-rata produksi sapi Jersey 8319 pound/tahun, tetapi kadar lemaknya sangat tinggi rata-rata 5,2% (Prihadi,1997).



Holstein – Friesien. 
Bangsa sapi Holstein-Friesien ialah bangsa sapi perah yang paling menonjol di Amerika Serikat, jumlahnya cukup banyak, mencakup antara 80 hingga 90% dari seluruh sapi perah yang ada. Asalnya ialah Negeri Belanda yaitu di propinsi Nort Holand dan West Friesland, kedua tempat yang mempunyai padang rumput yang bagus. Bangsa sapi ini pada awalnya juga tidak diseleksi kearah kemampuan atau ketangguhannya merumput. Produksi susunya banyak dan dimanfaatkan untuk pembuatan keju sehingga seleksi kearah jumlah produksi susu sangat dipentingkan (Blakely,1991).

Sapi yang berwarna hitam dan putih (ada juga Holstein yang berwarna merah dan putih) sangat menonjol alasannya ialah banyaknya jumlah produksi susu namun kadar lemaknya rendah. Sifat ibarat ini nampaknya lebih cocok dengan kondisi pemasaran pada ketika sekarang. Ukuran badan, kecepatan pertumbuhan serta karkasnya yang anggun menimbulkan sapi ini sangat disukai pula untuk tujuan produksi daging serta pedet untuk dipotong. Standar bobot tubuh sapi betina remaja 1250 pound, pada umumnya sapi tersebut mencapai bobot 1300-1600 pound. Standar bobot tubuh pejantan 1800 pound dan pada umumnya sapi pejantan tersebut mencapai diatas 1 ton. Produksi susu bias mencapai 126874 pound dalam satu masa laktasi, tetapi kadar lemak susunya relative rendah, yaitu antara 3,5%-3,7%. Warna lemaknya kuning dengan butiran-butiran (globuli) lemaknya kecil, sehingga baik untuk dikonsumsi susu segar (Blakely,1991).

Penyebaran sapi perah FH ini pertama kalinya di Pulau Jawa, terutamanya Jawa Barat pada tahun 1900 tempat Cisarau dan Lembang. Dengan begitu penyebaran ini semakin luas keberbagai tempat – tempat pelosok atau kota lainnya. Ada beberapa pendapat karakteristik ( ciri – ciri ) pada sapi perah FH ini ialah mempunyai bentuk tubuh memanjang kebelakang, perambingan baik, mempunyai bentuk ambing simetris dan juga produksi susu meningkat ( Blakely dan Bade 1998). Sedangkan berdasarkan dari pendapat lain mempunyai karakteristik ( Ciri – ciri ) antara lain.
  • Bulunya berwarna hitam dengan bercak berwarna putih.
  • Bulu ujung ekor berwarna putih.
  • Buku belahan bawah dari carpus ( belahan kaki ) berwarna putih atau hitam dari atas turun hingga kebawah.
  • Mempunyai ambing besar lengan berkuasa dan besar.
  • Tenang, jikan sehingga gampang pemeliharaannya.
  • Berat jantan 1.000 kg dan sapi betina 650 kg.
  • Lambat menjadi dewasa.
  • Sapi tidak tahan panas, namun gampang melaksanakan adaptasi.
  • Dahi terdapat warna putih berbentuk segitiga.
  • Kepala panjang dan sempit dengan tanduk pendek dan juga menjurus kedepan.
  • Produksi susu mencapai 6.000 – 8.000 kg/ekor/laktasi.
Untuk membudidayakan atau beternak sapi perah FH ini harus diubahsuaikan dengan suhu lingkungan, ketinggian budidayaa, iklim subtropis dan tropis dan administrasi perkandangan, pemeliharaan, pengendalian penyakit, serta juga sanitasi sangkar dengan teratur.



Jenis Sapi Perah Tropis


Sahiwal. 
Bangsa sapi Sahiwal berasal dari tempat Punyab, distrik montgo mery, Pakistan, tempat antara 29°5’ -30°2’ LU. Sapi perah Sahiwal mempunyai warna kelabu kemerah-merahan atau kebanyakan merah warna sawo atau coklat. Sapi betina bobot badannya mencapai 450 kg sedangkan yang jantan 500-600 kg. sapi ini tahan hidup di tempat asalnya dan sanggup berkembang di daerah-daerah yang curah hujannya tidak begitu tinggi. Produksi susu paling tinggi yaitu antara 2500-3000 kg/tahun dengan kadar lemaknya 4,5%. Menurut Ware (1941) berdasarkan catatan sapi perah Sahiwal yang terbaik dari 289 ekor sanggup memproduksi antara 6000-13000 pound (2722-5897 liter) dengan kadar lemak 3,7% (Blakely,1991).





Red Sindhi. 
Bangsa sapi Red Sindhi berasal dari tempat distrik Karachi, Hyderabad dan Kohistan. Sapi Red Sindhi berwarna merah bau tanah dan tubuhnya lebih kecil bila dibandingkan dengan sapi Sahiwal, sapi betina remaja rata-rata bobot badannya 300-350 kg, sedangkan jantannya 450-500 kg. produksi susu Red Sindhi rata-rata 2000 kg/tahun, tetapi ada yang mencapai produksi susu 3000 kg/tahu dengan kadar lemaknya sekitar 4,9% (Blakely,1991).





Gir. 
Bangsa sapi Gir berasal dari tempat semenanjung Kathiawar akrab Bombay di India Barat dengan curah hujan 20-25 inchi atau 50,8-63,5 cm. Daerah ini terletak antara 20°5’ - 22°6’ LU. Pada animo panas temperature udara mencapai 98°F (36,7°C) dan animo cuek temperatu udara hingga 60°F (15,5°C) (Prihadi,1997).


Warna sapi Gir pada umumnya putih dengan sedikit bercak-bercak coklat atau hitam, tetapi ada juga yang kuning kemerahan. Sapi ini tahan untuk bekerja baik di sawah maupun di tegal. Ukuran bobot sapi betina remaja sekitar 400 kg, sedangkan sapi jantan remaja sekitar 600 kg. produksi susu rata-rata 2000 liter/tahun dengan kadar lemak 4,5-5% (Blakely,1991).


Negara-Negara Produsen Sapi Terbesar Di Dunia




Indonesia yaitu termasuk importir terbesar sapi asal Australia. Memang produksi sapi di Australia termasuk besar meskipun jikalau dibandingkan dengan beberapa negara dibawah ini masih berada dibawahnya atau berada pada posisi dibawahnya. Mengapa Indonesia tidak mengimpor sapi dari negara-negara yang mempunyai populasi terbesar dibawah ini? Banyak faktor yang perlu dipertimbangkan untuk melaksanakan impor sapi dari negara tertentu menyerupai faktor penyakit ternak dan juga faktor posisi dan jarak negara. Kita tidak akan mengimpor sapi dari kawasan cuek yang jenis sapinya tidak akan cocok digemukkan dinegara kita. Kita juga tidak akan mengimpor dari negara yang jaraknya terlalu jauh alasannya yaitu ongkos angkutnya akan mahal kecuali jikalau dinegara tersebut harga sapinya memang benar-benar murah maka sanggup dipertimbangkan.

Negara kita juga menghindari impor sapi dari negara-negara yang belum bebas penyakit sapi berbahaya. Salah satu penyakit sapi yang berbahaya dan sanggup menular kepada insan yaitu antraks. India yaitu salah satu negara yang belum bebas antraks sehingga negara kita juga belum berani impor sapi hidup dari India dan hanya impor daging kerbau dengan pengawasan yang ketat.

Negara-negara mana sajakah yang merupakan produsen ternak sapi terbesar di dunia? 
Berikut beberapa negara yang mempunyai populasi sapi yang terbesar di dunia :

USA - AMERIKA SERIKAT (Sumber foto : www.jdhudgins.com ) Breeding Sapi Brahman milik J.D. Hudgins family di Hungerford, Amerika Serikat

Populasi penduduk : 321.034.355 jiwa

Luas Negara : 9.826.675 Km2

Populasi sapi potong : 87.730.000 ekor

Produksi daging : 11.230.000 ton

Ekspor daging : 1.141.000 ton


BRAZIL

Peternakan sapi di Amazon, Brazil (Sumber foto : www.gaia.pge.utexas.edu )

Populasi penduduk : 204.451.000 jiwa

Luas negara : 8.515.767 Km2

Populasi sapi potong : 207.960.000 ekor

Produksi daging sapi : 9.920.000 ton

Ekspor daging sapi :2.030.000 ton

Brazil berkonstribusi menyupply daging sapi dunia sebesar 20% dari kebutuhan daging sapi global. Peternakan sapi potong di Provinsi Lianing, China


CHINA
Peternakan sapi potong di Provinsi Lianing, China

Sumber foto : http://asia.nikkei.com/

Peternakan sapi potong di Provinsi Lianing, China

Populasi : 1.353.821.000 jiwa

Luas negara : 9.640.821 Km2

Populasi sapi potong : 104.188.000 ekor

Produksi daging sapi : 5.760.000 ton

Impor daging sapi : 550.000 ton

China mengkonsumsi 5.9 juta ton daging sapi dalam setahun. Kebutuhan daging sapi di China dipenuhi oleh produksi dalam negeri sebesar 80% dan sisanya mendatangkan dari salah satu negara pengimpor terbesar ke China yaitu New Zealand.


INDIA

Populasi penduduk : 1.276.267.000 jiwa

Luas negara : 3.287.590 Km2

Populasi sapi potong : 329.700.000 ekor

Produksi daging sapi : 4.000.000 ton

Ekspor daging sapi : 1.875.000 ton

Sapi di negara India merupakan ternak yang disucikan dan dihentikan disembelih. Karena sebagian besar penduduk India beragama Hindu di mana terdapat fatwa bahwa sapi merupakan simbol dari kekayaan, kekuatan, kesuburan, santunan bumi dan kehidupan. Adanya fatwa tersebut menciptakan India mempunyai populasii sapi yang cukup besar. Negara peserta impor daging terbesar dari India diantaranya Vietnam, Malaysia, Thailand dan Mesir.


ARGENTINA

Sumber foto macdermottsargentina.com

Populasi penduduk : 43.417.000 jiwa

Luas Negara : 2.780.400 Km2

Populasi sapi : 51.745.000 ekor

Produksi daging : 2.900.000 ton

Ekspor daging : 200.000 ton

Populasi penduduk : 23.892.000 jiwa


AUSTRALIA

Sumber foto thesentimentalbloke.com

Luas Negara : 7.692.024 ekor

Populasi sapi potong : 28.250.000 ekor

Produksi daging sapi : 2.240.000 ton

Ekspor daging : 1.560.000 ton

Australia mempunyai peternakan sapi terbesar di dunia yang terletak di Anna Creek. Luas area peternakan 34.000 Km2 dengan 16.000 ekor sapi.

Jenis-Jenis Sapi Potong Unggul Penghasil Daging

Sapi Brangus
Sapi Brangus


Sapi Brangus merupakan persilangan sapi betina Brahman (Bos indicus) dan pejantan Aberden Angus (Bos taurus). Komposisi genetikanya 3/8 Brahman dan 5/8 Aberdeen Angus. Sapi Brangus berasal dari Oklahoma, Amerika Serikat. Ciri khasnya yaitu warna hitam dengan tanduk kecil. Untuk ciri lainnya yaitu leher dan pendengaran pendek, punggung lurus, tubuh kompak dan padat, kaki besar lengan berkuasa dan kokoh. Sifat Brahman yang diwarisi brangus yaitu adanya punuk, tahan udara panas, tahan gigitan serangga dan gampang mengikuti keadaan dengan pakan yang mutunya kurang baik. Sedangkan sapi Aberden Angus yang diturunkan produktifitas dagingnya tinggi dan persentase karkasnya tinggi.

Sumber gambar : http://disnakeswan.kalbarprov.go.id
Keunggulan sapi Brangus antara lain tubuh besar dan kompak, pertumbuhannya cepat, berat tubuh remaja di atas 900 kg, tahan terhadap iklim tropis dan pakannya sederhana. Sapi Brangus merupakan tipe dwiguna (dual purpose) jadi sanggup berfungsi sebagai penghasil daging maupun penghasil susu. Sebagai penghasil daging, karkas Sapi Berangus di Kabupaten Sragen sanggup mencapai + 53% dengan kualitas daging : Protein 11,5% dan Lemak 8,8% dengan lebel 14 dan dinyatakan sebagai daging baik (hasil uji Lab. BPPV Yogyakarta) sebagai penghasil susu, induk Sapi Brangus yang gres melahirkan bisa memproduksi susu hingga + 4 liter/ ekor

Sapi Santa Gertrudis
Sapi Santa Gertrudis. Sapi Santa Gertrudis ini yaitu hasil persilangan antara pejantan Brahman dan betina shorthorn yang di kembangkan pertama kali di King Ranch Texas Amerika serikat tahun 1943. Sapi Santa Gertrudis ini masuk Indonesia mulai tahun 1973, bobot jantan remaja di atas 900 kg dan betina di atas 725 kg. Sapi ini juga merupakan salah satu dari jenis BX (Brahman cross).

Sapi Angus

JENIS SAPI ANGUS. Sapi Angus ini masuk di Indonesia melalui Selandia Baru, tapi awal mulanya berasal dari Skotlandia.
Ciri-ciri sapi Angus antara lain warna hitam, leher dan pendengaran pendek, penuh bulu, punggung lurus, tubuh kompak dan padat, kaki besar lengan berkuasa dan kokoh. Keunggulan sapi Angus antara lain tubuh besar dan kompak, pertumbuhannya tubuh cepat, berat tubuh remaja di atas 900 kg, tahan terhadap iklim dan pakan tropis.

Sapi Nelore
SAPI NELORE. Sapi Ongole disebut juga sapi Nellore, sebab berasal dari suatu kawasan India yang disebut Nellore, tetapi kini banyak terdapat di kawasan Guntur yang terletak di Madras India (Joshi dan Philips, 1953 yang dikutip oleh Marjoto, 1974).  Menurut Williamson dan Payne (1959) serta Sudrajat (1978) sapi ongole berasal dari kawasan Madras di India yang mempunyai curah hujan berkisar antara 76,2 - 88,9 cm per tahun, temperatur maksimumnya 17,9oC pada bulan Desember dan Januari.  Pernyataan ini di dukung oleh Williamson dan Payne (1971) yang mengemukakan bahwa, tempat asal sapi ongole ialah kawasan Guntur, Krisna dan Nellore yang masih termasuk distrik Madras, terletak pada 19o  - 16,1o!  lintang utara dan 79,4o! - 80,2o! bujur timur. (sumber: wikipedia.com)
Sapi Nelore Brazil, Asal dari India

Sapi Longhorn


Texas Longhorn yaitu ternak sapi yang terkenal sebab karakteristik tanduknya yang sanggup mecapai panjang hingga 2,1 Meter. Tanduk yang dimiliki sapi ini sanggup berbelok ke atas sedikit di ujung. Sapi Jenis Texas Longhorns terkenal dengan warna mereka yang beragam

Sapi Limousin
SAPI LIMOUSIN. Sapi limousin yaitu sapi yang pertama kali dikembangkan di Perancis. Sapi limousin merupakan tipe sapi pedaging dengan perototan yang lebih baik dari sapi simmental
SAPI BALI. Sapi Bali Adalah hasil domestikasi dari Banteng atau tembadau, Bos javanicus, yaitu binatang yang sekerabat dengan sapi dan ditemukan di Myanmar, Thailand, Kamboja, Laos, Vietnam, Kalimantan, Jawa, dan Bali.
SAPI SIMENTAL. Sapi Simmental (Bos taurus) yaitu sapi potong unggul dengan performa daging dan karkas yang sangat bagus. Pertumbuhan sapi jenis ini tidak mengecewakan cepat dan ketika ini menjadi sapi yang sangat disukai peternak lokal dan lebih lazim disebut sapi metal dikalangan peternak kecil.
SAPI BRAHMAN. Sapi brahman yaitu keturunan sapi Zebu atau Boss Indiscuss. Aslinya berasal dari India kemudia masuk ke Amerika pada tahun 1849 berkembang pesat di Amerika, Di AS, sapi Brahman dikembangkan untuk diseleksi dan ditingkatkan mutu genetiknya.
SAPI BELGIAN BLUE. Sapi Belgian Blue yaitu sapi potong unggul yang mempunyai keistimewaan dauble muscle atau mempunyai otot ganda. Sapi ini mempunyai pertumbuhan yang sangat cepat dan daging nyaris tanpa lemak. Saking besarnya anakan atau pedet sapi ini sehingga seringkali harus dilakukan operasi cesar untuk melahirkan pedetnya.
SAPI SHORTHORN. Sapi shorthorn ini merupakan salah satu jenis bangsa sapi yang berasal dari belahan timur bahari Inggris didaerah Northhumberland. Sapi ini juga merupakan sapi penghasil mutli guna berupa daging dan juga susu yang tinggi. Sehinga bangsa sapi ini banyak di budidaya dan di ternakan di banyak sekali kawasan terutamanya di Indonesia sudah banyak juga yang membudidayakan sapi ini, namun harus diubahsuaikan dengan suhu lingkungan.

Karakteristik Sapi shorthorn

  • Warna putih, merah batan dan kecoklatan
  • Kepala pendek dan sangat lebar
  • Tanduk mempunyai arah kesamping dan pangkal ujung mengarah kedepan
  • Leher pendek dan besar bidang dada samping dan dada rata di bahunya.
  • Memiliki garis punggung lurus dan juga hingga pangkal ekor,
  • Pinggang lebar dan padat
  • Bobot tubuh remaja jantan mencapai 1.000 kg dan bobot remaja betina mencapai 900 kg
SAPI CHAROLAIS. Sapi charolais ini yaitu jenis sapi unggul yang dikembangkan di negara Perancis, Sapi charolais mempunyai ciri khas warna bulu perak atau krem muda dan merupakan jenis sapi terbesar di negara Perancis, sapi charolais ini sangat jarang di jumpai pada pasar-pasar tradisional di Indonesai.

SAPI HEREFORD. Bangsa sapi ini berasal dari Hereford (Inggris) dan dikenal sebagai white face cattle. Terdapat dua bangsa Hereford, yaitu sapi Hereford bertanduk yang merupakan bangsa sapi Hereford orisinil dan tidak bertanduk (polled Hereford). Tubuh sapi Hereford berwarna merah dengan belahan muka, dada, perut belahan bawah, kaki belahan bawah, dan rambut ekor berwarna putih. Ukuran tubuhnya sedang, tingkat pertumbuhannya sangat cepat dan produktivitasnya juga tinggi.Tingkat ketahanan dan kemampuan dalam merumput terbilang baik.Tempramennya baik, tulang besar lengan berkuasa dan perdagingannya tebal.Sapi ini juga disilangkan dengan jenis sapi Brahman sehingga menghasilkan jenis Brahman Cross. Sapi ini yaitu jenis sapi potong atau pedaging. Herefords yaitu berkembang biak kuno, disimpan di Herefordshire di Inggris barat selama berabad-abad

Sapi Madura merupakan sapi potong lokal orisinil dari Indonesia hasil persilangan antara banteng dengan bos indicus atau sapi Zebu yang secara genetik mempunyai sifat toleran kepada iklim panas dan lingkungan marginal dan tahan kepada serangan penyakit. Sehingga Sapi jenis ini sangat sempurna untuk diternakkan atau dibudidaya baik sebagai sapi pedaging maupun sapi pekerja keras. (wikipedia)

Karakteristik Sapi Madura



  • Secara genetik, Sapi Madura mempunyai sifat toleran kepada iklim panas dan lingkungan pinggiran, dan tahan kepada serangan beberapa penyakit. 
  • Karakteristik dari sapi Madura sangatlah seragam, secara fisiologis sapi Madura mempunyai postur tubuh yang lebih kecil, berkaki lebih singkat dan kuat, mempunyai bulu tubuh dengan warna merah bata, terbisa bulu berwarna putih dibagian perut dan paha belahan dalam, dan bentuk tanduk yang setengah melingkar dan melengkung ke arah depan dibagian ujung tanduknya.
  • Sapi Madura sendiri termasuk sebagai sapi potong tipe kecil dengan variasi bobot tubuh kurang lebih 300kg. Akan tetapi apabila teknik penggemukan sapi dengan baik yang sesuai dengan pemenuhan keperluan pakan yang cukup dan berkualitas, sapi Madura ini sanggup tumbuh dengan bobot mencapai lebih dari 500kg.
Sapi Beefmaster
Sapi Beefmaster yaitu sapi yang pertama kali dikembangkan di Amerika (US) yang merupakan hasil persilangan antara sapi brahman jantan dengan sapi betina shorthorn ataupun hereford dari Inggris. Ciri fisiknya sanggup dikenali dari tubuhnya yang besar dengan punuk dan bulu berwarna coklat kemerahan.

Sapi PO

Sapi PO atau sapi Jawa sebab penyebaranan dan perkembang biakan sapi PO terdapat di Pulau Jawa dengan konsentrasi penyebaran terpadat di kawasan Jawa tengah (Grobogan, Wonogiri, dan Gunung Kidul) dan di Jawa Timur (Magetan, Nganjjuk, dan Bojonegoro). Daerah Sumatra terutama dijumpai di Aceh dan Tapanuli (Siregar,

Sifat dan Ciri Fisik Sapi PO
  • Sapi PO berukuran sedang, dengan gelambir yang lebar yang longgar dan menggantung.
  • Badannya panjang sedangkan lehernya pendek.
  • Kepala belahan depan lebar diantara kedua mata.
  • Bentuk mata elip dengan bola mata dan sekitar mata berwarna hitam.
  • Telingan agak kuat, ukuran 20-25 cm, dan agak menjatuh.
  • Tanduknya pendek dan tumpul, tumbuh kedepan dan kebelakang.
  • Pada pangkal tanduk tebal dan tidak ada retakan.
  • Warna yang terkenal yaitu putih. Sapi jantan pada kepalanya berwarna bubuk tua, pada leher dan kaki adakala berwarna hitam.
  • Warna ekor putih, kelopak mata putih dan otot berwarna segar, kuku berwarna cerah dan tubuh berwarna bubuk tua.
  • Sapi ini lambat dewasa, pada umur 4 tahun mencapai remaja penuh.
  • Bobot sapi remaja 600 kg pada sapi jantan dan bisa juga lebih dari 800 kg kalau dipelihara secara intensif dan 300-400 kg untuk sapi betina yang bisa juga hingga berat diatas 500 kg.
  • Berat lahir 20-25 kg.
  • Hasil karkas, persentase karkas 45-55% dengan perbandingan daging tulang 3,23 : 1.



Model-Model Cara Memelihara Dan Menggemukkan Sapi Potong


Macam-macam Sistem Penggemukan Sapi Potong dari Tradisional Sampai Modern
Apabila penggemukan sapi dilakukan dalam waktu yang relatif singkat maka diharapkan donasi konsentrat yang banyak dalam komponen ransumnya. Namun, perlu diketahui bahwa donasi konsentrat yang lebih dari 60% dalam komponen ransumnya sudah tidak akan irit lagi walaupun harganya murah. Oleh lantaran itu, walaupun penggemukan sapi dengan sistem dry lot fattening memerlukan donasi konsentrat yang relatif banyak dalam komponen ransumnya, tetapi jumlah donasi konsentrat itu dihentikan lebih dari 60% dalam komponen ransumnya.
Sistem Penggemukan dengan Pasture Fattening
Pasture atau padang penggembalaan ialah lahan yang dipakai untuk penggembalaan dan sumber hijauan segar bagi ternak. Menurut Parakkasi (1999), pasture ialah suatu lapangan terpagar yang ditumbuhi hijauan dengan kualitas unggul dan dipakai untuk menggembalakan ternak ruminansia. Ciri-ciri pasture yang baik yaitu produksi materi kering tinggi, mempunyai kandungan nutrien terutama protein berangasan yang tinggi, tahan renggutan dan injakan serta kekeringan ketika animo kemarau, pemeliharaannya mudah, daya tumbuh cepat, nisbah daun dan batang tinggi, gampang dikembangkan jikalau dikombinasikan dengan tumbuhan legume, irit dan mempunyai palatabilitas yang tinggi.

Sistem Penggemukan Sapi Potong Jenis Pasture Fattening adalah merupakan sistem penggemukan sapi yang dilakukan dengan cara menggembalakan sapi di padang penggembalaan. Dengan demikian, teknik donasi pakan dalam sistem ini ialah dengan penggembalaan. Tidak ada penambahan pakan berupa konsentrat maupun biji-bijian sehingga pakan yang tersedia hanya berasal dari hijauan yang terdapat di padang penggembalaan. Oleh lantaran itu, hijauan yang terdapat di padang penggembalaan disamping rumput-rumputan yang ada, haruslah ditanami dengan leguminosa supaya kualitas hijauan yang ada di padang penggembalaan itu lebih tinggi. Apabila hanya mengandalkan rumput-rumputan saja dan tanpa penanaman leguminosa maka tidak sanggup diharapkan pertambahan bobot sapi yang lebih tinggi.



Apabila sistem penggemukan sapi pasture fattening akan diaplikasikan di Indonesia maka jenis leguminosa yang disarankan untuk ditanam di padang-padang penggembalaan ialah Arachis, Centrosema, Lamtoro, Siratro, dan Desmodium trifolium. Bibit tumbuhan tersebut sanggup diperoleh antara lain di Balai Penelitian Ternak dan Balai Pengkajian Teknologi Pertanian di Pulau Jawa dan di luar Pulau Jawa.

Padang penggembalaan harus selalu terpelihara dari kerusakan dan erosi. Untuk itu, tata laksana penggembalaan harus dilakukan dengan baik. Sebelum digunakan, kapasitas tamping setiap areal padang penggembalaan harus ditentukan terlebih dahulu. Hal ini untuk menjafa supaya tidak terjadi tekanan penggembalaan yang hiperbola atau over grazing.

Pada tempat-tempat tertentu di areal padang penggembalaan disediakan air minum bersih. Untuk menjaga supaya sapi tidal kekurangan mineral maka tempat-tempat tertentu perlu pula disediakan lempengan-lempengan garam dapur atau mineral blok. Selain itu, areal padang penggembalaan sebaiknya ditanami pohon-pohon peneduh untuk berteduh sapi, terutama pada waktu hari sedang panas. Pohon peneduk ini dpat berupa tumbuhan lamtoro atau gamal.
Kandang pada sistem penggemukan sapi pasture fattening hanya berfungsi sebagai tempat berteduh sapi-sapi pada malam hari atau pada waktu sengan sangat panas. Penggemukan sistem pasture fattening memerlukan padang penggembalaan yang relatif luas sehingga sulit bila dilaksanakan di daerah-daerah yang padat penduduknya ibarat di Pulau Jawa. Namun, bukan berarti penggemukan sapi dengan sistem pasture fattening tidak sanggup dilakukan di Indonesia.

Di luar Pulau Jawa, meskipun tidak banyak lagi lahan yang tersedia, tetapi sudah ada yang melaksanakan penggemukan sapi dengan sistem pasture fattening. Di Pulau Sumatera, misalnya, dikenal kelompok Gembala Sriwijaya, Jaka Sampurna, dan Double Bell Ranch di Batam. Di Kalimantan Barat ada Kahayangan River Ranch sedangkan di Kalimantan Selatan ada Imbah Ranch. Di Sulawesi Selatan tidak kurang dari 8 buah Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan swasta yang bergerak dalam perjuangan penggemukan sapi sistem pasture fattening.
Dari segi biaya produksi, penggemukan sapi dengan sistem pasture fattening lebih murah dibanding sistem lainnya. hal ini disebabkan oleh biaya hijauan dan upah tenaga kerjayang lelatif murah lantaran tenaga kerja yang dibutuhkan tidak banyak. Namun, lantaran pakan atau ransum yang diberikan berupa hijauan dan meskipun dicampur dengan leguminosa, misalnya, pertambahan bobot tubuh yang dicapai pada sistem lainnya yang memakai hijauan dan konsentral lebih tinggi. Oleh lantaran itu penggemukan sapi dengan sistem pasture fattening memerlukan waktu yang relatif lama, yakni sekitar 8-10 bulan.
Sapi bakalan yang dipakai pada penggemukan sapi sistem pasture fattening ialah sapi jantan atau betina yang minimal telah berumur sekitar 2.5 tahun. Sapi jantan mempunyai pertumbuhan yang lebih cepat daripada sapi betina sehingga waktu penggemukannya relatif singkat.
Indonesia mempunyai animo kemarau dan animo hujan yang sangat mempengaruhi pertumbuhan vegetasi termasuk hijauan pakan ternak. Pada waktu kemarau, terutama pada bulan Juli-September, hijauan pakan ternak sulit diperoleh. Saat itu produksi hijauan atau rerumputan banya mencapai sekitar 50% dari produksi rata-rata per bulan. Dalam kaitannya dengan animo kemarau, diusahakan supaya penjualan sapi-sapi dilakukan pada musim-musim susah untuk mendapat hijauan.
Untuk menanggulangi kesulitan mandapatkan hijauan pada animo kemarau, disarankan menanam leguminosa pohon ibarat lamtoro atau petai cina dan gamal. Pohon-pohon tersebut ditanam di pinggir-pinggir padang penggembalaan atau pada tempat-tempat padang penggembalaan yang sanggup berfungsi pula sebagai tempat berteduh sapa pada hari panas.

Dengan demikian, apabila terjadi kekurangan hijauan pada animo kemarau, setidaknya sanggup dibantu dengan donasi daun lamtoro tau daun gamal dari leguminosa pohon yang ditanam. Pemberian hijauan dari leguminosa pohon itu sebaiknya dilakukan pada ketika sapi sudah simpulan merumput dan beristirahat di sangkar atau di tempat-tempat berteduh. Pemberian daun gamal pada sapi memerlukan waktu pembiasaan supaya sapi itu mau memakannya. Pemberian daun gamal pada sapi sanggup pula dilakukan dengan cara melayukannya terlebih dahulu selama semalam sebelum diberikan kepada sapi.

Satu hal lagi yang perlu diperhatikan dalam pengelolaan padang penggembalaan yang dipakai untuk penggemukan sapi dengan sistem pasture fattening ialah rotasi penggunaan padang penggembalaan. Suatu areal padang penggembalaan sanggup dibagi atas beberapa petak dan diisi dengan beberapa ekor sapi yang digemukkan. Setiap petak harus diamati terus supaya sanggup ditentukan ketika yang sempurna untuk melaksanakan rotasi.

Penggemukan Dengan Fattening Intensif (Dry Lot Fattening)

Dry lot fattening merupakan sistem penggemukan sapi dengan donasi ransum atau pakan yang mengutamakan biji-bijian ibarat jagung, sorgum atau kacang-kacangan. Di Amerika Serikat, penggemukan sapi dengan sistem dry lot fattening dilakukan pada tempat pusat produksi jagung yang dikenal dengan corn belt.

Pemberian jagung yang telah digiling dan ditambah dengan donasi hijauan yang berkualitas sedang pada penggemukan sapi sudah menunjukkan pertambahan bobot tubuh yang lumayan. Namun, belakangan ini penggemukan sapi dengan sistem dry lot fattening bukan hanya menunjukkan satu jenis biji-bijian saja, tetapi sudah merupakan suatu bentuk yang diformulasi dari aneka macam jenis materi pakan konsentrat.

Bahan-bahan yang dipergunakan sanggup terdiri dari jagung giling, bungkil kelapa, dedak padi, polard, bungkil kelapa sawit, ampas tahu, dan sebagainya. Dengan penambahan mineral dan garam dapur, bahan-bahan tersebut diformulasi dan menjadi bentuk pakan jadi yang disebut konsentrat. Sapi dan ternak ruminansia lainnya membutuhkan serat berangasan yang antara lain bersumber pada hijauan untuk memperlancar dan mengoptimalkan proses pencernaannya. Oleh lantaran itu, donasi hijauan pada penggemukan dengan sistem dry lot fattening sangat dibatasi oleh batas-batas tertentu yang tidak akan mengganggu proses pencernaan. Untuk itulah, dibentuk batasan minimal donasi hijauan dalam komponen pakan atau ransum ternak ruminansia.

Untuk penggemukan sapi atau ternak ruminansia lainnya, kebutuhan minimal hijauan berkisar antara 0.5-0.8% materi kering dari bobot tubuh sapi yang digemukkan.

Contoh: seekor sapi yang akan digemukkan mempunyai bobot tubuh 200 kg dan akan diberi hijauan berupa rumput gajah di samping donasi konsentrat sebagai pakan utamanya. Rumput gajah segar mengandung 21.0% materi kering. Dengan demikian kebutuhan minimal hijauan sapi yang akan digemukkan itu ialah 200 x 0.5/100 x 1 kg = 1.0 kg materi kering atau 4.8 kg dalam bentuk segar. Namun, hijauan atau rumput yang diberikan selalu ada yang tidak dimakan atau terbuang pada waktu sapi itu makan. Oleh lantaran itu, donasi hijauan selalu diberi embel-embel sebanyak 5% dari kebutuhannya. Dengan demikian, rumput gajah segar yang akan diberikan pada sapi yang akan digemukkan itu ialah sebanyak 105 x 4.8 kg = 5.4 kg/hari.

Apabila penggemukan sapi dilakukan dalam waktu yang relatif singkat maka diharapkan donasi konsentrat yang banyak dalam komponen ransumnya. Namun, perlu diketahui bahwa donasi konsentrat yang lebih dari 60% dalam komponen ransumnya sudah tidak akan irit lagi walaupun harganya murah. Oleh lantaran itu, walaupun penggemukan sapi dengan sistem dry lot fattening memerlukan donasi konsentrat yang relatif banyak dalam komponen ransumnya, tetapi jumlah donasi konsentrat itu dihentikan lebih dari 60% dalam komponen ransumnya.

Contoh: Seekor sapi yang akan digemukkan mempunyai bobot tubuh 200 kg dengan pertambahan bobot tubuh diharapkan 1.0 kg/hari. Sapi itu akan diberi konsentrat sebanyak 3.6 kg/hari. Konsentrat yang diberikan itu mengandung 85.8% materi kering. Lama penggemukan relatif singkat, yakni sekitar 3 bulan. Dilihat dari segi ekonomisnya, apakah donasi konsentrat itu masih terlalu sedikit atau sudah terlalu banyak?

Perhitungan: Jumlah materi kering konsentrat dan hijauan yang diberikan itu = 3.6/100 x 85.8 + 15.6/100 x 21.8 x 1 kg = 6.49 kg. Porsi konsentrat dalam komposisi ransum itu = (3.6/100 x 85.8)/6.49 x 100% = 47.6%. Dengan demikian, jumlah donasi konsentrat itu masih cukup irit dan tidak terlalu sedikit. Namun, apabila pertambahan bobot tubuh sapi itu tidak mencapai 1.0 kg/hari dan kemampuan konsumsinya masih sanggup ditingkatkan maka donasi konsentrat itu masih sanggup diperbanyak menjadi 4.2 kg/hari. Dalam hal ini porsi konsentrat menjadi (4.2/100 x 85.8)/7.0 x 100% = 51.5% (masih dibawah 60%).

Sapi yang digemukkan dengan sistem dry lot fattening berada terus-menerus dalam sangkar dan tidak digembalakan ataupun dipekerjakan. Sapi bakalan yang digemukkan pada sistem dry lot fattening pada umumnya ialah sapi-sapi jantan yang telah berumur lebih dari satu tahun dengan usang penggemukan berkisar antara 4-6 bulan.

Penggemukan Secara Tradisional Sistem Sapi Kereman
Penggemukan sapi dengan sistem kereman dilakukan dengan cara menempatkan sapi-sapi dalam sangkar secara terus-menerus selama beberapa bulan. Sistem ini tidak begitu berbeda dengan penggemukan sapi dengan sistem dry lot, kecuali tingkatnya yang masih sederhana. Pemberian pakan dan air minum dilakukan dalam sangkar yang sederhana selama berlangsungnya proses penggemukan.

Pakan yang diberikan terdiri dari hijauan dan konsentrat dengan perbandingan yang tergantung pada keresediaan pakan hijau dan konsentrat. Apabila hijauan tersedia banyak maka hijauanlah yang lebih banyak diberikan. Sebaliknya, apabila pakan konsentrat gampang diperoleh, tersedia banyak dan harganya relatif murah maka donasi konsentratlah yang diperbanyak. Namun, ada pula peternak yang hanya menunjukkan hijauan saja tanpa adanya donasi konsentrata ataupun pakan lainnya. sudah barang tentu hal ini sanggup dilakukan pada daerah-daerah yang masih potensial menyediakan hijauan.

Pengertian konsentrat dalam penggemukan sapi sistem kereman ialah sederhana, yakni hanya terdiri dari satu jenis dan paling banyak dua jenis materi pakan saja. Misalnya, konsentrat itu hanya berupa dedak padi saja atau ampas tahu, atau pun hasil industry pertanian lainnya. Ada pula yang menciptakan konsentrat itu berupa adonan dedak padi dengan ubi kayu yang dilumatkan dan kemudian direndam dalam air panas selama beberapa saat.

Penggemukan sapi dengan sistem kereman hanya terdapat di Indonesia dan banyak dilakukan di daerah-daerah Magetan, Wonogiri, Wonosobo, Lamongan, Bondowoso, Banyuwangi, Sulawesi Selatan, Aceh dll. Ada beberapa faktor yang mendukung berkembangnya perjuangan penggemukan dengan sistem kereman di beberapa daerah, yaitu;

  • Bakalan sapi untuk penggemukan cukup tersedia dan relatif gampang diperoleh.
  • Ketersediaan hijauan, termasuk limbah pertanian, cukup potensial dan tersedia sepanjang tahun.
  • Ketersediaan hasil ikutan industri pertanian ibarat ampas tahu, ampas brem, ampas nanas dan sebagainya cukup potensial dan tersedia sepanjang tahun.
  • Kotoran sapi berupa pupuk sangkar sangat diharapkan untuk memupuk tumbuhan pertanian penduduk. Pada umumnya sapi bakalan yang dipakai untuk penggemukan dengan sistem kereman ialah sapi-sapi jantan yang telah berumur sekitar 1-2 tahun dalam kondisi kurus. Lama penggemukan berkisar antara 3-6 bulan.
Pertambahan bobot tubuh yang dicapai pada penggemukan sapi sistem kereman sangat bervariasi dan terutama tergantung pada pakan atau ransum yang diberikan. Penelitian yang dilakukan di tempat Wonogiri, misalnya, dengan donasi ransum berupa hijauan, konsentrat jadi, dan ditambah dengan ampas brem akan mendapat pertambahan bobot tubuh rata-rata 0.8 kg/hari.

Dari penelitian yang telah dilakukan pada sapi peranakan ongole dan jantan sapi perah juga diperoleh rata-rata pertambahan bobot tubuh masing-masing ialah 0.52 kg/hari dan 0.4 kg/hari dengan hanya menunjukkan hijauan saja tanpa ada penambahan konsentrat. Apabila ransum yang diberikan hanya hijauan saja maka pertambahan bobot tubuh yang dicapai tidak akan setinggi pertambahan bobot tubuh yang mendapat ransum berupa hijauan dan konsentrat.

Sistem Penggemukan Kombinasi Antara Pasture dan Dry Lot Fattening

Penggemukan sapi dengan sistem kombinasi pasture dan dry lot fattening banyak dilakukan di daerah-daerah subtropis maupun tropis dengan pertimbangan animo dan ketersediaan pakan. Di tempat subtropis, pada animo hambar sebelum salju turun, sapi digemukkan dengan sistem pasture. Setelah turun salju, penggemukan sapi diteruskan dengan sistem dry lot. Sedangkan untuk tempat tropis, pada animo banyak produksi hijauan ataupun rumput, penggemukan sapi dilakukan dengan pasture. Pada animo tertentu pada animo kemarau, sewaktu produksi hijauan sudah sangat menurun, penggemukan sapi diteruskan dengan sistem dry lot.

Penggemukan sapi dengan sistem kombinasi pasture dan dry lot fattening sanggup pula diartikan dengan menggembalakan sapi-sapi padan padang-padang penggembalaan di siang hari selama beberapa jam, sedangkan pada sore dan malam hari sapi-sapi dikandangkan dan diberi pakan konsentrat secukupnya. Sistem demikian ini umumnya terdapat pada tempat yang luas padang penggembalaannya sudah sangat terbatas.

Dibandingkan dengan sistem penggemukan sapi pasture fattening, usang penggemukan sapi dengan sistem kombinasi pasture dan dry lot fattening lebih singkat, tetapi lebih usang dibandingkan dengan sistem dry lot fattening. Lama penggemukan sapi pada umumnya dipengaruhi oleh banyak faktor dan terutama ialah umur, kelamin, kondisi, bobot, dan kualitas maupun kuantitas pakan yang diberikan. Dapat ditambahkan, bahwa sapi yang lebih muda memerlukan waktu penggemukan yang lebih usang dibandingkan dengan sapi yang telah berumur tua. Dalam kaitan antara umur dengan usang penggemukan, sanggup dikemukakan sebagai berikut:
  • Sapi bakalan untuk penggemukan yang berumur kurang dari satu tahun, usang penggemukan berkisar antara 8-9 bulan.
  • Sapi bakalan untuk penggemukan yang berumur 1-2 tahun, usang penggemukan berkisar antara 6-7 bulan.
  • Sapi bakalan untuk penggemukan yang berumur 2-2.5 tahun, usang penggemukan berkisar antara 4-6 bulan.

Mengenal Jenis Sapi Limpo Dan Simpo, Apa Ciri-Cirinya?


Ciri-ciri Sapi Hasil Persilangan, Sapi Limousin - PO (Limpo) dan Simental - PO (Simpo)

Sekilas Sapi Limousin. Sapi Limousin mempunyai ciri berwarna hitam bervariasi dengan warna merah bata dan putih, terdapat warna putih pada moncong kepalanya, tubuh berukuran besar dan mempunyai tingkat produksi yang baik. Merupakan sapi bangsa Bos taurus yang dikembangkan pertama kali di Prancis. Sapi ini merupakan tipe sapi pedaging. Secara genetik, sapi limousin ialah sapi potong yang berasal dari wilayah beriklim dingin, bertipe besar, mempunyai volume rumen yang besar, bisa menambah konsumsi lebih tinggi di luar kebutuhan yang sebenarnya, serta mempunyai metabolisme yang cepat sehingga menuntut tata laksana pemeliharaan yang lebih teratur. Sapi limousin murni sulit ditemukan di Indonesia dikarenakan telah mengalami persilangan dengan sapi lokal.

Kebanyakan sapi limousin yang ada di Indonesia ialah limousin cross yang telah disilangkan dengan sapi lokal. Hadi dan Ilham (2002) menambahkanbahwa salah satu jenis sapi impor yang didatangkan ke Indonesia ialah sapi Limousin, yang mempunyai keunggulan dibanding sapi lokal yaitu pertambahan bobot tubuh harian (PBBH) berkisar antara 0,80-1,60 kg/hari, konversi pakan tinggi dan komposisi karkas tinggi dengan komponen tulang lebih rendah.

Sapi Peranakan Ongole (PO). Sapi ongole merupakan keturunan sapi zebu dari India yang mulai diternakan secara murni di pulau Sumba, sehingga dikenal dengan nama sapi “Sumba” ongole. Ciri-ciri sapi ongole antara lain berpunuk besar, mempunyai lipatan kulit di bawah leher dan perut, indera pendengaran panjang dan menggantung, kepala relatif pendek dengan posisi melengkung, mata besar mengatakan ketenangan, serta bulunya berwarna putih.

Hasil persilangan sapi ongole dengan sapi lokal Indonesia (sapi Jawa) menghasilkan sapi yang menyerupai dengan sapi ongole dan dikenal dengan nama sapi PO (peranakan ongole). Sapi PO murni sudah sulit ditemukan, dikarenakan telah banyak disilangkan dengan sapi brahman. Ukuran tubuh sapi PO lebih kecil dibandingkan dengan sapi ongole. Punuk dan gelambir juga kelihatan lebih kecil atau sangat sedikit. Warna bulunya bervariasi, tetapi kebanyakan berwarna putih atau putih keabu-abuan. Sapi PO populer sebagai sapi pedaging dan sapi pekerja, bisa menyesuaikan diri terhadap banyak sekali kondisi lingkungan, dan cepat bereproduksi.

Tinggi sapi ongole jantan berkisar 150 cm dengan berat tubuh mencapai 600 Kg. Sementara itu, sapi betina mempunyai tinggi tubuh berkisar 135 cm dan berat tubuh 450 Kg. Pertambahan bobot tubuh sapi ongole sanggup mencapai 0,9 Kg per hari dengan kualitas karkas mencapai 45 – 58%. Rasio daging dengan tulangnya ialah 1 : 423, sapi ongole termasuk lambat untuk mencapai dewasa, yaitu sekitar umur 4 – 5 tahun. Untuk sapi PO, bobot tubuh rataan sekitar 200 – 350 kg dengan pertambahan bobot tubuh 0,6 – 0,8 Kg per hari kalau dipelihara dengan baik.

Pada sapi PO, warna bulu tubuh putih abu-abu gres muncul ketika lepas sapih dan menjadi semakin besar kemungkinan munculnya pada ketika umur yearling. Cirinya berwarna putih dengan warna hitam di beberapa penggalan tubuh, bergelambir dan berpunuk, dan daya adaptasinya baik. Jenis ini telah disilangkan dengan sapi Madura, keturunannya disebut Peranakan Ongole (PO) cirinya sama dengan sapi Ongole tetapi kemampuan produksinya lebih rendah.

Sapi Limpo (Limousin Peranakan Ongole)



Sapi Limpo (Limousin PO)

Persilangan sapi limousin dengan sapi ongole dikenal dengan nama sapi limousin ongole (limpo). Sapi limpo mempunyai ciri tidak berpunuk dan tidak bergelambir, serta warna bulunya hanya cokelat bau tanah kehitaman dan cokelat muda.

Pada sapi LIMPO (Limousin cross dengan PO), variasi warna bulu badannya hanya coklat bau tanah dan coklat putih. Pada sapi LIMPO, warna bulu tubuh yang lebih banyak didominasi dari lahir hingga yearling ialah coklat tua. Warna coklat putih yang sering muncul ketika lahir, menjadi lebih sering muncul pada ketika sapi mencapai umur yearling. Dalam jumlah kecil, ada sapi LIMPO yang ketika lahir mempunyai warna bulu tubuh putih (seperti PO), tetapi semua nya akan bermetamorfosis coklat putih sesudah sapi mencapai umur yearling.

Terjadinya variasi dan perubahan terhadap warna bulu tubuh sapi silangan ini, menjadi pertimbangan penting dalam ikut memilih sebaiknya sapi silangan yang mana, SIMPO atau LIMPO, yang cocok dikembangkan di daerah DR (dataran rendah) atau DT (dataran tinggi), sebab Gebremedhin (1984) dan Robertshaw (1984) menyatakan bahwa warna bulu sapi sangat besar lengan berkuasa pada prosedur pengaturan temperatur tubuh sapi hubungannya dengan efek panas lingkungan ; sapi yang bulunya cenderung ke arah warna gelap, lebih cocok dikembangkan di daerah berintensitas sinar matahari lebih rendah.

Sapi Limousin Peranakan Ongole (LIMPO) merupakan sapi hasil persilangan antara pejantan sapi Limousin dengan induk sapi PO, kebanyakan sapi-sapi ini merupakan hasil perkawinan IB, sapi LIMPO sebagai turunan sapi tipe besar sehingga secara genetic mempunyai laju pertumbuhan yang lebih besar dan lebih cepat dibanding sapi PO (Sarwono dan Arianto, 2003). Hastuti (2007) menyatakan bahwa karakteristik eksterior sapi LIMPO ialah warna sekitar mata bervariasi coklat hingga hitam, moncong warna hitam dengan sebagian kecil berwarna merah.

Seperti sudah diketahui bahwa Sapi Limpo dan Simpo ialah kependekan dari Simmental-PO dan Limousin-PO, keduanya merupakan sapi hasil kawin silang (crossbreeding) antara sapi PO dengan Simmental ataupun Limousin. Sapi-sapi ini belakangan sering kita temui sebab sangat disukai peternak. Peternak lebih menyukai sapi jenis ini dibanding sapi lokal (sapi PO) sebab berat lahir yang lebih besar, pertumbuhan lebih cepat, pembiasaan baik pada lingkungan serta pakan yang sederhana, ukuran tubuh remaja lebih besar dan penampilan yang eksotik.

Alasan ini menimbulkan nilai jual yang lebih tinggi, pendapatan peternak lebih besar, serta sanggup menjadi pujian peternak. Pada dasarnya sapi hasil persilangan ini (Simpo dan Limpo) diperuntukkan sebagai sapi final stock (sapi yang dipersiapkan untuk pribadi dipotong). Namun, pemanfaatan sapi-sapi ini sebagai indukan menimbulkan beberapa fenomena yang disadari atau tidak, justru merugikan peternak. Selain juga menimbulkan adanya bahaya kepunahan bangsa sapi lokal.

Kinerja dan Anomali Reproduksi Sapi Betina Crossbreeding

Aplikasi IB memakai bibit Bos taurus (Simmental dan Limousin) pada indukan sapi jenis Simpo atau Limpo menimbulkan penurunan kinerja reproduksi, antara lain semakin menurunnya angka konsepsi (conception rate = CR) dan semakin meningkatnya jumlah inseminasi per kebuntingan (services per conception = S/C) Pengamatan Putro (2008) pada kelompok sapi PO dan silangan peserta IB di Daerah spesial Yogyakarta mengatakan hal tersebut (Tabel 1).

Tabel 1. Kinerja reproduksi sapi PO dan silangan PO-Simmental peserta IB

Kinerja Reproduksi PO F1 F2 F3 F4

Angka konsepsi (CR) 80% 68% 60% 39% 34%

Inseminasi per konsepsi (S/C) 1,20 1,90 2,30 3,40 3,50

Endometritis 8% 17% 22% 31% 28%

Repeat breeding (kawin berulang) 28% 38% 47% 62% 68%

Dari tabel diatas sanggup diketahui bahwa angka konsepsi atau kemungkinan terjadinya kebuntingan sapi Simpo kalau dikawinkan dengan bibit Simmental semakin menurun dan lebih rendah dibanding sapi lokal (sapi PO). Begitu juga kemungkinan keberhasilan IB {Inseminasi per konsepsi (S/C)} pada Simpo keturunan keempat mencapai angka kemungkinan 1 kali keberhasilan sesudah lebih dari 3 kali IB.

Pada peternakan sapi rakyat, pemeliharaan tradisional dan pakan yang kurang memadai dari segi kualitas maupun kuantitasnya agaknya merupakan penyebab utama menurunnya kinerja reproduksi ini. Disamping itu, duduk masalah pakan sangat mempengaruhi skor kondisi tubuh (SKT) yang umumnya lebih rendah dari optimum bagi proses reproduksi (3,0-3,5, dari skor 1,0-5,0). Rerata SKT sapi silangan yang relatif rendah ini sangat besar lengan berkuasa pada kinerja reproduksi. Penurunan kinerja reproduksi ini oleh Diwyanto (2002) diduga sebagai akhir adanya efek interaksi lingkungan genetik, di samping kemungkinan telah banyak terjadi inbreeding akhir persilangan yang tidak terpola dan tidak tercatat. Dari pengamatan pedet-pedet hasil IB, perkawinan silang akan banyak memunculkan sifat-sifat gen resesif, antara lain berbentuk janjkematian pedet dalam kandungan, lahir mati (stillbirth), kasus-kasus teratologi menyerupai tidak mempunyai lubang anus.

Pengamatan Putro (2008), semakin tinggi darah Bos taurus akan menciptakan sapi semakin rentan terhadap investasi cacing hati (fasciolasis) dan cacing porang (paramphistomiasis). Keadaan ini sangat mengurangi efisiensi pakan dan akhirnya terang kondisi sapi yang terlalu kurus atau mempunyai SKT rendah (dibawah 2,0) serta berakibat dengan tumbulnya infertilitas metabolik. Anomali reproduksi sangat berkaitan dekat dengan rendahnya SKT dan infertilitas metabolik, terutama berbentuk hipofungsi ovaria (ovarian quiscence), sista folikel (anovulatory follicle), ovulasi tertunda (delayed ovulation) dan korpus luteum persisten (persistency of corpus luteum) dan endometritis subklinis (subclinical endometritis).

Ovulasi Tertunda (delayed ovulasi) atau birahi panjang

Salah satu fenomena yang sering terjadi ialah ovulasi tertunda (delayed ovulasi). Ovulasi tertunda (delayed ovulation), merupakan akhir defisiensi LH lebih ringan lagi. Ciri-ciri sapi yang mengalami ovulasi tertunda biasanya mempunyai waktu birahi yang lebih panjang. Normalnya sapi PO memilikiKondisi ini lebih sering dijumpai pada sapi silangan dengan Bos taurus, semakin meningkat dengan semakin tingginya angka F.

Penanganan Anomali Reproduksi Sapi Crossbreeding

Berdasarkan temuan mengenai status reproduksi sapi crossing sapi lokal X Bos taurus (Simmental dan Limousin) dengan segala permasalahannya saran untuk perbaikan efisiensi reproduksinya sebagai berikut:

1. Breeding policy untuk sapi potong perlu segera diimplementasikan, menyerupai ditetapkan dalam crossbreeding darah Bos taurus-nya jangan melebihi 75% (maksimum F2) sesudah itu disilangkan balik (backcrossing), untuk meminimumkan masalah anomali reproduksi.

2. Pakan yang mencukupi kualitas dan kuantitasnya, untuk mempertahankan SKT optimum untuk reproduksi (3,0-3,5), di samping dukungan obat cacing berspektrum luas untuk mengatasi cacing hati (Fasciolasis) dan cacing porang (Paramphistomiasis), paling tidak 2 kali setahun merupakan kunci bagi penanggulangan reproduksi klinis sapi crossing sapi lokal x Bos taurus.

3. Manajemen peternakan yang keliru merupakan penyebab rendahnya efisiensi reproduksi pada sapi silangan, utamanya ialah defisiensi pakan, sistem perkandangan dan pengamatan birahi. Untuk itu perlu peningkatan administrasi peternakan, perbaikan pakan dan kesehatan hewan.

4. Penanganan infertilitas metabolik dan nutrisi, dengan perbaikan pakan dan perbaikan skor kondisi tubuh (Putro, 2009)

Inseminasi buatan memungkinkan aktivitas crossbreeding antara sapi betina lokal dan semen beku pejantan Bos taurus (Simmental dan Limousin). Keadaan ini menimbulkan jumlah sapi silangan F1, F2, F3 dan F4 semakin banyak dijumpai, serta semakin sulitnya ditemui sapi PO di pulau Jawa. Fakta mengatakan bahwa terjadi penurunan kinerja reproduksi dan peningkatan anomali reproduksi pada sapi-sapi indukan tersebut. Kinerja reproduksi dan anomali reproduksi pada sapi indukan silangan sanggup diperbaiki dengan peningkatan administrasi peternakan, perbaikan pakan dan kesehatan hewan.

Sumber:

Putro, Prabowo Purwono Putro. 2009. Dampak Crossbreeding Terhadap Reproduksi Induk Turunannya: Hasil Studi Klinis. Disampaikan pada Lokakarya Crossbreeding Sapi Potong di Indonesia: Aplikasi dan Implikasinya terhadap Perkembangan Ternak Sapi di Indonesia, Lustrum VIII, Fakultas Peternakan UGM, Yogyakarta 8 Agustus 2009.

Potensi perkembangan Sapi Potong

Sapi merupakan penghasil daging utama di Indonesia. Konsumsi daging sapi mencapai 19 persen dari jumlah konsumsi daging Nasional (Dirjen Peternakan, 2009). Konsumsi daging sapi cenderung meningkat dari tahun ke tahun. Pada tahun 2006 mencapai 4,1 kg/ kapita/tahun meningkat menjadi 5,1 kg/kapita/tahun pada tahun 2007. Namun peningkatan konsumsi daging ini tidak diimbangi dengan peningkatan populasi ternak (ketidak seimbangan antara supply dan demand), sehingga diseimbangkan dengan impor daging sapi setiap tahun yang terus meningkat sekitar 360 ribu ton pada tahun 2004 menjadi 650 ribu ton pada tahun 2008 (Luthan, 2009).

Grafik Pertumbuhan Populasi Sapi Potong,kambing dan kerbau di Indonesia pada 5 tahun terakhir,



Sumber : Direktorat Jenderal Peternakan

Dari table pertambahan populasi ternkan sapi potong, kambing dan juga kerbau sanggup dilihat betapa rendahnya populasi ternka sapi potong kalau dibandingkan dengan jumlah populasi masyarakat Negara Indonesia, tentunya tidak memenuhi konsumsi daging perkapita pertahunnya.

Dapat juga dilihat grafik dibawah ini konsumsi daging (daging sapi, daging ayam ras/broiler, daging ayam kampung) di Indonesia perkapita selama 5 tahun terakhir;



Sumber : National Sosio-Economic Survey, 2007-2013

Dari tabel konsumsi daging perkapita dalam 5 tahun terakhir sanggup dilihat perbandingan yang sangat jauh konsumsi daging ayam ras/broiler dengan daging sapi, dalam 3 tahun terakhir konsumsi perkapita daging sapi jjuga mengalami penurunan padahal kalau dilihat dari kebijakan pemerintah kita telah melaksanakan ekspor daging sapi dari Australia untuk memenuhi konsumsi daging kenyataannya sangat berbeda dengan apa yang kita dapatkan dilapangan.

Untuk mengurangi ketergantungan Indonesia pada sapi potong impor, Depertemen Pertanian kembali mencanangkan aktivitas swasembada daging pada tahun 2014 dengan melaksanakan kajian mendalam melalui aktivitas ”Percepatan Pencapaian Swasembada Daging Sapi ( P2SDS )”. Kegiatan yang dilaksanakan antara lain revitalisasi aktivitas pembibitan dengan pendistribusian bibit sapi potong ke banyak sekali propinsi potensial untuk dikembangkan secara intensif. Idealnya peningkatan populasi sapi setidaknya mencapai 7 persen per tahun (Dirjen Peternakan, 2009).

Pada umumnya sapi potong yang dipelihara peternak di Negara kita ialah sapi Lokal, sapi Bali, Simental, Peranakan Ongole, Limousine, Brahman, Angus dan hasil persilangan antara Brahman dan Angus yang dikenal dengan nama Brangus.

Kondisi lahan yang kurang subur merupakan hambatan utama kurang tersedianya pakan hijauan. Keringnya lahan pertanian di suatu wilayah menimbulkan tidak semua jenis tumbuhan hijauan sanggup tumbuh subur. Sistem pertaniannya sangat bergantung pada daur iklim khususnya curah hujan. Oleh sebab lahan pertanian berupa lahan kering maka di samping bercocok tanam sebagai kegiatan utama, untuk meningkatkan pendapatan petani juga memelihara ternak (Abdurrahman et al., 1997). Pengembangan perjuangan ternak sapi potong rakyat di suatu daerah dilakukan dengan memanfaatkan limbah pertanian mengingat penyediaan rumput dan hijauan pakan lainnya sangat terbatas. Limbah pertanian yang berasal dari limbah tumbuhan pangan yang mempunyai potensi untuk pakan ialah jerami padi, jerami jagung, jerami kacang tanah, daun ubi jalar, daun singkong serta limbah pertanian lainnya yang ketersediaannya sangat dipengaruhi oleh rujukan pertanian tumbuhan pangan di suatu wilayah (Febrina dan Liana 2008).

Persilangan bangsa sapi Bos indicus (Persilangan Ongole) dengan bangsa sapi Bos taurus (Sapi Limousin) bertujuan untuk menghasilkan sapi potong yang mempunyai reproduksi dan pertumbuhan yang bagus. Pemeliharaan sapi Persilangan Limousin lebih disukai oleh peternak sebab mempunyai tubuh yang lebih besar serta harga jual yang lebih tinggi dari sapi lokal.

Sapi Bos taurus (Limousin) mempunyai sifat reproduksi yang tinggi, ukuran tubuh besar dengan J. Ternak Tropika Vol. 12, No.2: 76-80, 2011 75 kecepatan pertumbuhan sedang hingga tinggi, sedangkan bangsa sapi Bos indicus (PO) mempunyai sifat yang kurang baik dalam hal reproduksi dan kecepatan pertumbuhannya, tetapi sifat menyusui terhadap anaknya (mothering ability) sangat bagus. Dari kelebihankelebihan yang dimiliki oleh kedua bangsa tersebut diperlukan bisa terekspresikan pada hasil silangannya. Persilangan yang memanfaatkan heterosis hanya sanggup meningkatkan karakteristik produksi, tetapi tidak reproduksinya.. Hal itu terlihat dari jarak beranak yang mencapai 20 bulan, yangterkait dekat dengan tingginya anestrus pasca beranak serta tingginya kawin berulang. (Astuti 2004). Tinggi rendahnya efisiensi reproduksi ternak dipengaruhi oleh lima hal yaitu . sngka kebuntingan (conception rate); jarak antar kelahiran (calving interval); jarak waktu antara melahirkan hingga bunting kembali (service periode); angka kawin per kebuntingan (service per conception); angka kelahiran (calving rate) (Hardjopranjoto, 1995).

Solusi yang sanggup dilakukan yaitu dengan meningkatkan efisiensi dan efektifitas reproduksi dengan cara persilangan bangsa sapi Bos Indicus (Persilangan Ongole) dengan bangsa sapi Bos taurus (Sapi Limousin) sehingga impor sapi sanggup dikurangi. Penampilan reproduksi di peternakan rakyat secara umum masih tergolong rendah, sehingga perlu adanya penilaian reproduksi sapi potong pada paritas berbeda.

Paritas ialah tahapan seekor induk ternak melahirkan anak. Paritas pertama ialah ternak betina yang telah melahirkan anak satu kali atau pertama. Demikian juga untuk kelahirankelahiran yang akan tiba disebut paritas kedua dan seterusnya (Hafez, 2000). Daya reproduksi ternak pada umumnya dipengaruhi terutama lamakehidupan, dimana usang kehidupan produktif sapi potong lebih usang bila dibandingkan dengan sapi perah yaitu 10 hingga 12 tahun dengan produksi 6 hingga 8 anak. Faktor ini sangat penting bagi peternakan dan pembangunan peternakan, sebab setiap penundaan kebuntingan ternak, mempunyai dampak hemat yang sangat penting (Toelihere, 1985).

Peningkatan produktivitas sapi potong melalui aktivitas persilangan (crossbreeding) antara sapi Limousin atau Simmental dengan sapi Peranakan Ongole telah usang dilakukan melalui sistem perkawinan inseminasi buatan (IB). Menurut Hardjosubroto (1994), tujuan utama dari persilangan ialah menggabungkan dua sifat atau lebih yang berbeda yang semula terdapat dalam dua bangsa ternak ke dalam satu bangsa silangan.

Program inseminasi buatan (IB) di Indonesia telah menghasilkan beberapa sapi potong silangan. Sapi SIMPO sebagai hasil persilangan antara sapi Simmental dengan sapi peranakan ongole (PO) dan LIMPO sebagai hasil persilangan antara sapi Limousin dengan sapi PO, merupakan sapi silangan yang banyak disukai dan dipelihara oleh peternak rakyat. Simmental atau Limousin ialah sapi dari bangsa Bos Taaurus yang berasal dari daerah sedang (temperate zone), terbiasa hidup di daerah dengan temperatur udara yang hirau taacuh dan tatalaksana pemeliharaan yang intensif (ASTUTI et al., 2002), serta termasuk sapi tipe besar sehingga secara genetik mempunyai laju pertumbuhan yang cepat. Sapi PO ialah termasuk bangsa Bos Indicus yang berasal dari daerah tropis, terbiasa hidup di daerah dengan temperatur udara yang panas dan tatalaksana pemeliharaan yang ekstensif, serta termasuk sapi tipe kecil hingga sedang sehingga laju pertumbuhannya rendah hingga sedang. Oleh sebab itu, sapi SIMPO dan LIMPO secara genetik akan mewarisi sifat-sifat kedua tetuanya masing-masing sebesar 50%, yaitu diduga dibandingkan dengan sapi PO akan mempunyai potensi laju pertumbuhan lebih cepat tetapi kurang tahan terhadap efek temperatur udara panas dan kondisi pakan terbatas.

Kenyataan di lapang, sapi SIMPO dan LIMPO yang dipelihara di peternak rakyat ada yang mengatakan performan produksi tidak lebih baik bahkan beberapa masalah justru lebih buruk dibandingkan dengan sapi PO. Performan penotip yang kurang/tidak mencerminkan potensi genotipnya ini, berdasarkan DIWYANTO (2002) diduga sebab efek terjadinya genetic-environmental interaction.






Sapi Simpo (Simmental PO)

Keberhasilan IB untuk menghasilkan seekor pedet ketika ini cukup bervariasi, tetapi untuk beberapa daerah telah berhasil dengan baik. Salah satu kunci keberhasilan IB adalah, sapi dipelihara secara intensif dengan cara di kandangkan. Hal ini akan memudahkan dalam deteksi berahi serta memudahkan petugas untuk melaksanakan IB. Akan tetapi secara umum keberhasilan IB masih lebih rendah dibandingkan dengan kawin alam (Subarsono, 2009).

Namun secara komprehensif laporan wacana keberhasilan IB untuk meningkatkan mutu genetic sapi (produktivitas) hingga ketika ini belum ada. Demikian pula halnya dengan kinerja performans reproduksi sapi persilangan hasil IBpraktis belum banyak dilakukan evaluasinya, kecuali sinyalemen yang disampaikan Putro (2009). Oleh sebab itu pelaksanaan IB harus diadaptasi dengan tujuan dan target selesai yang akan dituju, serta dengan memperhatikan adanya interaksi genetika dan lingkungan (genotype environmet interaction, GEI). Apabila IB ditujukan untuk menghasilkan bakalan pada perjuangan cow-calf operation, maka penggunaan pejantan yang berukuran besar (misalnya: Simental maupun Limousin) hanya sanggup dilakukan di daerah yang ketersediaan pakannya memadai.

Peternak menyukai sapi persilangan hasil IB, sebab harga jual anak jantan sangat tinggi, sedangkan sekitar 50% hasil IB ialah sapi betina yang dipergunakan sebagai replacement. Dengan kegiatan IB, sapi lokal bermetamorfosis sapi tipe besar yang membutuhkan banyak pakan. Pada kondisi sulit pakan, sapi persilangan menjadi kurus, kondisi tubuh buruk, dan berakibat menurunnya kinerja reproduksi, seperti: nilai S/C (sevice per conception) tinggi, jarak beranak panjang, dan rendahnya calf crop. Kondisi ini disertai rendahnya produksi susu dan tingginya janjkematian pedet. Pada kondisi pemeliharaan yang baik, kinerja reproduksi sapi persilangan tetap baik.