Showing posts with label Teknologi Peternakan. Show all posts
Showing posts with label Teknologi Peternakan. Show all posts

Thursday, July 9, 2015

Cara Beternak Ulat Sutera, Penyediaan Pakan, Bibit Hingga Panen

Apa itu Ulat Sutera? Ngengat sutra atau sutera yakni ngengat yang mempunyai nilai ekonomi tinggi sebagai penghasil serat/benang sutra. Makanan ulat sutra hanyalah daun murbei. Ia berasal dari utara Tiongkok. Menurut Wikipedia,Nama ilmiah dari ulat sutera adalah: Bombyx mori


Tips Memelihara Ulat Sutera
Pada suhu rendah ulat akan lebih lambat mengokon. sinyal tanda ulat yang akan mengokon yaitu ibarat berikut: nafsu makan berkurang atau berhenti makan sekalipun; badan ulat jadi bening kekuning-kuningan (transparan); ulat condong berjalan ke tepi; dari verbal ulat keluar serat sutera. seandainya sinyal tanda tersebut telah tampak, jadi butuh diambil tindakan ibarat berikut: kumpulkan ulat dan masukkan ke didalam alat pengokonan yang sudah disediakan dengan langkah menaburkan dengan merata. alat pengokonan yang baik yaitu: rotari. seri frame, pengokonan bambu dan mukade (terbuat dari daun kelapaatau jerami yang dipuntir membentuk sikat tabung).

Ulat sutera ini membutuhkan waktu sekitar 10 hari untuk menetas dan sesudah menetas kemudian akan menjadi ulat dan membentuk kepompong mentah. Kemudian masuk ke dalam tahap menjadi kepompong mentah , disitulah kepompong mentah akan di pintal potongan benang sutera yang sekitar panjang 300 meter hingga dengan 900 meter. Serat dari pada benang sutera yagn di hasilkan ketika di pintal biasanya mempunyai diameter sekitar 10 mikrometer.

Dalam hal makan , ulat sutera ini termasuk ulat yang rakus . ulat ini makan sepanjang hari selagi stok makanan yang ada di sekitarnya masih ada. Memang ke rakusan dari pada ulat sutera ini berdampak kepada pertumbuhan dan juga perkembangan ulat yang cukup pesat dengan mengalami 4 fase ganti kulit. Saat warna kulit masih berwarna kuning , berarti mengindikaskan bahwa ulat sutera ini akan segara membungkus dirinya sendiri dan akan bermetamorfosis kepompong.

Beberapa cara mengolah benang sutera antara lain merebus terlebih dahulu ulat sutera yang memang belum masuk atau sebelum menjadi matang supaya menghasilkan benang sutera yang manis dan mempunyai kualitas terbaik. Selain itu juga merebus ulat sutera ini bertujuan sebagai membunuh ulat sutera sehingga akan memudahkan dalam menguraikan serat-serat kepompong sutera.

Langkah-langkah Memelihara Ulat Sutera

Sebelum melaksanakan pemeliharaan pada ulat sutera sebaiknya perlulah dilakukan persiapan berupa penyediaan pakan ulat sutera, ruangan untuk memelihara, peralatan untuk pemeliharaan serta pemesanan telur atau bibit ulat sutera.

Penyediaan Pakan Ulat

Daun murbei untuk ulat sutera kecil berumur pangkas 1 bulan sedangkan untuk ulat sutera remaja berumur pangkas 2 atau 3 bulan.
Tanaman murbei sanggup dipanen sesudah berumur 9 bulan sesudah penanaman.
Dalam pemeliharaan 1 box ulat sutera diperlukan sekitar 1000 hingga 1200 kg daun murbei dengan cabang atau 400 hingga 500 kg daun murbei tanpa cabang.
Jenis unggul daun murbei yang baik untuk ulat sutera yakni Morus alba, Morus cathayana, Morus multicaulis dan lainnya.

Ruangan dan Peralatan untuk Pemeliharaan Ulat Sutera
Ruangan untuk pemeliharaan ulat sutera harus mempunyai ventilasi dan jendela yang cukup
Tempat pemeliharaan ulat remaja dipisahkan dari daerah pemeliharaan ulat kecil, ulat kecil dipelihara pada daerah khusus atau unit pemeliharaan ulat kecil.

Peralatan untuk budidaya ulat sutera yang perlu disediakan antara lain kotak/rak pemeliharaan, kaporit/papsol, kapur tembok, daerah pakan/tempat daun,jaring ulat, ayakan, pisau, gunting stek, ember/baskom, kertas alas, kertas minyak atau parafin, lap tangan , kain epilog daun dan lainnya.

Ruangan dan peralatan diberi desinfeksi 2 hingga 3 hari sebelum budidaya dimulai. Apabila ulat kecil dipelihara di Upuk berlantai semen maka lakuakan pembersihan sesudah didesinfeksi.

Bibit Ulat Sutera
Jumlah bibit ulat sutera diadaptasi dengan jumlah daun yang tersedia dan kapasitas runagan serta peralatan untuk budidaya. Pemesanan bibit ulat sutera tersebut dipesan selambat-lambatnya 10 hari sebelum budidaya dimulai, sesudah bibit telah diperoleh maka lakukan penanganan telur dengan baik semoga telur menetas seragam dengan cara:


Telur disebarkan pada kotak penetasan yang telah ddisiapkan kemudian ditutup dengan kertas putih tipis, kotak penetasan tersebut diletakan pada ruangan yang sejuk dan terhindar dari sinar matahari secara eksklusif dengan kelembaban 75%-85% dan suhu sekitar 25°C-28°C. Apabila pada telur sudah terlihat bintik biru maka bungkus memakai kain hitam selama 2 hari.

Pemeliharaan Ulat Sutera Kecil
Dalam melaksanakan pemeliharaan ulat kecil didahului dengan aktivitas Hakikate yaitu aktivitas penanganan ulat yang gres menetas disertai dengan pertolongan pakan pertama.

Ulat sutera yang gres menetas didesinfeksi dengan memakai bubuk adonan kaporit dan kapur dengan perbandingan 5:95, kemudian beri daun murbei muda yang telh dipotong kecil kecil, selanjutnya ulat dipindahkan ke sasag kemudian ditutup enggunkan parafin atau kertas minyak. Lakukan pertolongan pakan sebanyak 3 kali sehari yaitu pada pagi, siang dan sore hari.

Ulat sutera akan mengalami masa istirahat dan pergantian kulit pada setiap instar, apabila hal tersebut berlangsug maka lakukan pemberhentian pertolongan pakan namun taburi dengan kapur. Pada dikala masa ini berlangsung, semoga udara mengalir maka jendela atau vebtilasi runagan dibuka. pada dikala tamat instar lakukan penjarangan dan sesuaikan daya tampung daerah dengan perkembangan ulat sutera. Lakukan pembersihan daerah ulat dan pencegahan hama penyakit dengan teratur.

Pelaksanaan :
Pada instar I dan II , pembersihan dilakukan sebanyak 1 kali. Pada instar III pembersihan dilakukan sebanyak 1 atau 2 kali dan semua itu dilakukan sesudah pertolongan pakan kedua dan menjelang tidur.
Rak atau sasag ditempatkan semoga tidak melekat dengan dinding, kali rak diberi kaleng yang berisi air semoga mencagah gangguan semut.
Jika lantai ruangan tidak disemen maka taburi lantai dengan kapur secara merata semoga tidak lembab.
desinfeksi badan ulat sutera dilakukan sesudah ulat sutera berdiri yaitu sebelum pertolongan pakan pertama.

Penyaluran ulat sutera kecil dari daerah UPUK (Unit Pemeliharaan Ulat Kecil) ke UPUB (Unit Pemeliharaan Ulat Besar) dilakukan saar ulat sedang tisur pada instar III. Perlakuan pada dikala penyaluran yaitu penyaluran ulat yang akan dipindahkan dibungkus dengan menggulung kertas alasnya dan kedua sisi kertas bantalan diikat kemudian diletakkan pada posisis berdiri atar ulat tidak tertekan. Sebaiknya Penyaluran ini dilakukan pada pagi atau sore hari.

Pemeliharaan Ulat Sutera Besar
Perlakuan terhadap ulat sutera besar berbeda dengan perlakuan pada ulat sutera kecil. Ulat sutera besar memerlukan kondisi ruangan yang sejuk dengan suhu sekitar 24°C-26°C dan kelembapan 70%-75%.

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam melaksanakan pemeliharaan ulat sutera besar adalah:
  • Ulat sutera besar memerlukan ruangan atau daerah pemeliharaan yang lebih luas.
  • Daun pakan yang dipersiapkan untuk ulat sutera besar, disimpan pada daerah yang higienis dan sejuk serta ditutup dengan kain basah;
  • Daun murbei yang diberikan pada ulat sutera besar untuk pakan tidak lagi dipotong-potong utuh dengan cabang dan penempatan pakan tersebut diselang-selingi secara teratur antara potongan ujung dan pangkalnya.
  • Pemberian pakan pada ulat sutera besar (pada instar IV dan V) dilakukan 3 hingga 4 kali sehari yaitu pada pagi, siang, sore dan malam hari;
  • Pemberian pakan dikala menjelang ulat tidur dikurangi atau dilarang dan pada dikala ulat tidur ditaburi kapur secara merata;
  • Desinfeksi badan ulat dilakukan setiap pagi sebelum pertolongan makan dengan memakai adonan kapur dan kaporit (90:10) ditaburi secara merata;
  • Pada instar IV, pembersihan daerah pemeliharaan dilakukan minimal sebanyak 3 kali, yaitu pada hari ke 2 dan ke 3 serta menjelang ulat tidur;
  • Pada instar V, pembersihan daerah dilakukan setiap hari;
  • Seperti pada ulat kecil, rak atau sasag ditempatkan tidak melekat pada dinding ruangan dan pada kaki rak dipasang kaleng yang berisi air dan apabila lantai ruangan pemeliharaan tidak berlantai semen semoga menghindari kelembaban tinggi maka ditaburi kapur.
Mengokonkan Ulat Sutera
Pada instar V yaitu hari ke6 atau 7 ulat sutera biasanya akan mulai mengokon. Tanda-tanda ulat sutera yang akan mengokon adalah:
Nafsu makan berkurang atau berhenti makan sama sekali;
Tubuh ulat sutera bermetamorfosis bening kekuning-kuningan atau transparan;
Ulat cenderung berjalan ke areal pinggir;
Keluar serat sutera dari verbal ulat .

Apabila sudah terlihat gejala tersebut, maka yang perlu dilakukan adalah:

Kumpulkan ulat sutera tersebut dan masukkan ke dalam alat pengokonan yang telah disiapkan dengan cara ditabur secara merata. Alat pengokonan yang baik dipakai antara lain: rotari. Seri frame, pengokonan bambu dan mukade (terbuat dari daun kelapa atau jerami yang diputar membentuk sikat tabung).

Pemanenan Dan Penanganan Kokon
Pemanenan dilakukan pada hari ke 5 atau 6 semenjak ulat sutera mulai menciptakan kokon. Sebelum dipanen, ulat yang tidak mengokon atau yang mati diambil kemudian dibuang atau dibakar. Penanganan kokon selanjutnya meliputi:
Pembersihan kokon, yaitu menghilangkan kotoran dan serat-serat yang ada pada lapisan luar kokon;
Seleksi kokon, yaitu pemisahan antara kokon baik dan kokon cacat/jelek;
Pengeringan kokon, yaitu penanganan terhadap kokon untuk mematikan pupa serta untuk mengurangi kadar air semoga sanggup disimpan dalam jangka waktu tertentu;
Penyimpanan kokon, hal ini dilakukan apabila kokon tidak eksklusif dipintal atau dijual atau sedang menunggu proses pemintalan.

Cara penyimpanan kokon yakni sebagai berikut :
1. Kokon dimasukkan ke dalam kotak karton atau kantong kain/kertas;
2. Kokon ditempatkan pada ruangan yang kering;
3. Selama dalam penyimpanan, sekali-sekali kokon dijemur ulang;
Lama penyimpanan kokon tergantung pada cara pengeringan, tingkat kekeringan dan daerah penyimpanan.

Cara Beternak Ulat Jerman Untuk Pakan Burung Kicau

Budidaya dan Cara Pemeliharaan Ulat Jerman (Mirip Ulat Hongkong), Sebagai Bahan Pakan Burung dan Pakan Ikan Serta Reptil
Ulat Jerman atau Superworm merupakan salah satu jenis ulat yang banyak dimanfaatkan untuk pakan burung kicau, pakan ikan arwana, pakan reptil, dan pakan binatang pemakan serangga lainnya bahkan ulat jerman ini juga dipakai sebagai masakan yang dikonsumsi manusia.
Ulat jerman mempunyai panjang badan sekitar 6 cm, atau lebih besar daripada ulat hongkong. Perilaku makannya juga jauh berbeda. Kalau ulat hongkong kurang aktif dalam menyantap pakan, dan cepat menjelma kepompok, tidak demikian halnya dengan ulat jerman.
Belakangan ini budidaya ulat jerman mulai marak di Indonesia, meski jumlahnya masih kalau dibandingkan dengan jumlah pembudidaya ulat hongkong. Awalnya, bibit ulat jerman didatangkan dari Amerika Tengah dan Amerika Selatan. Sekarang tak perlu impor lagi, alasannya sudah banyak yang mengembangbiakkannya di Indonesia untuk pakan burung dan reptil.


Ulat jerman populer sangat rakus. Ia sanggup memakan pakan apapun yang disediakan. Selain itu, ulat jerman juga tak terlalu cepat menjelma kepompong, sehingga sanggup bertahan lebih usang dikala Anda membelinya sebagai persediaan pakan burung.
Berikut ini beberapa kandungan gizi pada ulat jerman  :
  • Protein : 19,06 %
  • Lemak : 14,19 %
  • Kalsium : 173 ppm
  • Serat kasar: 2,60 %
Selain nilai gizinya lebih tinggi, kandungan khitin (exoskeleton) pada ulat jerman jauh lebih sedikit daripada ulat hongkong. Dengan demikian, pakan ini lebih gampang dicerna dan kondusif bagi susukan pencernaan burung, meski burung mengkonsumsinya dalam jumlah banyak.
Siklus hidunya memang lebih usang daripada ulat hongkong. Umurnya sanggup mencapai 1 tahun, dan hanya akan menjadi kepompong jikalau dipisahkan dari larva lainnya. Bandingkan dengan siklus ulat hongkong yang segera menjadi kepompong dalam waktu 12 – 50 hari.

Berikut beberapa persiapan alat dan materi serta langkah-langkah untuk memulai budidaya ulat Jerman yang diluar negeri bahakan sudah dijadikan semacam masakan ringan untuk dimakan insan alasannya kandungan nutrisi dan proteinnya yang diyakini sangat tinggi.

KOTAK ULAT / KUMBANG JERMAN

Kebutuhan kotak terdapat dua macam, yaitu kotak untuk wadah / daerah Kumbang Jerman dan kotak untuk wadah / daerah Ulat Jermannya. Adapun ukuran kotak untuk daerah Kumbang Jermannya mempunyai selisih minimal 2 cm baik panjang maupun lebarnya dari kotak daerah Ulat Jermannya. Artinya jikalau kotak untuk Ulat Jerman berukuran contohnya 40 x 60 cm, maka ukuran kotak untuk Kumbang Jerman yaitu 38 x 58 cm. Hal ini dimaksudkan biar kotak Kumbang sanggup masuk kedalam kotak Ulat jermannya. Sedangkan tinggi kotak yaitu minimal 12 cm.

Kotak Kumbang yang berukuran 38 x 58 cm dan tinggi 12 cm tersebut biasanya diisi dengan Kumbang Jerman sebanyak maksimal 500 ekor. Dengan demikian kebutuhan kotak Kumbang Jerman diadaptasi dengan jumlah Kumbang Jerman yang akan diternak.

Adapun pola Kotak Kumbang Jerman yaitu sbb:



Sedangkan kotak Ulat Jerman biasanya berukuran 40 x 60 cm dengan tinggi 12 cm yang terbuat dari papan/ sirap, triplek untuk alasnya serta lakban. Kebutuhan kotak Ulat Jerman ini setiap kotak Kumbang jerman yaitu 4 buah untuk setiap panen per 15 hari. Jika dibentuk panenan per 15 hari, maka selama produksi 3 bulan ( 90 hari ) diperlukan 90/15 x 4 kotak = 24 buah kotak, sesudah kotak ke 24 digunakan, panenan berikutnya sudah memakai kotak pertama alasannya kotak pertama sebanyak 4 kotak sudah harus dijual. Makara jikalau peternak akan beternak Kumbang Jerman sebanyak 5 ratus ekor, maka kebutuhan kotak ulatnya yaitu 500/500 ekor x 24 kotak = 24 kotak.
Adapun pola kotak Ulat jermannya yaitu :



Selanjutnya Kebutuhan sangkar / rak untuk masing2 kotak ulat jerman sanggup dibentuk sesuai dengan kebutuhan dan kondisi ruangan yang akan digunakan. Pada rak kotak ini tinggi setiap ruangan minimal 16 cm, sehingga terdapat sirkulasi udara yang lebih baik. Bahan rak sanggup dibentuk dari bambu ataupun kayu.

Contoh rak yaitu sebagai berikut :



PEMISAHAN TELUR KUMBANG JERMAN.

Dalam hal ini, pisahkan masing-masing individu dari sejenisnya biar mereka cepat menjelma kepompong. Sebab jikalau masih disatukan dengan ulat lainnya, mereka tak akan pernah menjelma kepompong atau kumbang.

Larva yang dipakai harus berukuran cukup besar, untuk memulai perubahan (morphing). Prosesnya sanggup berlangsung selama 5 bulan. Jika tidak sabar, boleh juga memakai larva umur 5 bulan / dewasa.

Pilih ulat yang paling besar, kemudian masukkan ke dalam wadah kosong (misalnya wadah film 35 mm atau daerah obat yang terbuat dari plastik). Sebab mereka hanya butuh ruangan yang kecil. Masukan ulat ke dalam wadah tersebut tanpa makanan. Hal ini akan memicu perubahan dalam waktu singkat.

Jika Anda melihat ulat sedang meringkuk dalam wadah, berarti proses metamorfosa sedang berlangsung. Jika mereka terlihat lurus dan berwarna kehitaman, ada kemungkinan ulat sudah mati. Tahap ini memakan waktu 1 – 2 minggu.

Biarkan larva di dalam wadah selama menjadi kepompong. Setelah itu, mereka membutuhkan waktu sekitar 1 – 2 ahad lagi untuk menjadi kumbang. Setelah wadah berisi kumbang, segera pindahkan ke wadah baru, contohnya toples atau wadah lainnya.

Wadah toples sanggup diisi terlebih dulu dengan voer atau pakan ayam, sebelum kumbang-kumbang dimasukkan. Namun, sanggup juga memasukkan lagi beberapa pakan lain menyerupai pecahan wortel dan buah-buahan untuk menjaga kelembaban, menyerupai yang biasa dilakukan para pembudidaya ulat hongkong.

Setiap dua minggu, kumbang dipindakan ke wadah lain, biar telurnya cepat menetas dan tak dimakan kembali oleh kumbang-kumbang tersebut. Lakukan hal ini secara rutin setiap dua ahad sekali.

Setelah telur menetas menjadi larva atau biasa disebut ulat, tahap berikutnya yaitu memindahkan mereka ke daerah cukup besar. Ulat-ulat ini disatukan dalam sangkar serta dirawat hingga besar. Selama perawatan, berikan pakan setiap hari, alasannya ulat jerman populer sangat rakus.

Selain itu, jaga kondisi lingkungan di sekitar sangkar biar tetap sejuk dan sedikit lembab. Apabila Anda hanya ingin memakai ulat jerman untuk konsumsim burung piaraan / penangkaran di rumah, maka setiap dikala Anda sanggup mengambilnya dari kandang.

Pemisahan telur kumbang jerman dari kumbang jerman dilakukan maksimal 15 hari produksi, untuk selanjutnya pemisahan telur yang sudah menjadi ulat jerman pada usia 1 bulan, dimana setiap kotak ukuran 40 x 60 cm dibagi menjadi dua kotak, dan pemisahan yang berikutnya ketika ulat jerman telah berusia 2 bulan setiap kotak ulat jerman dibagi menjadi dua kotak lagi.
Untuk setiap kali pemisahan sebaiknya memakai alat penyaring / ayakan dengan ukuran yang disesuaikan, dan sedapat mungkin ukuran ulatnya mempunyai besar yang sama.
Adapun pola ayakan yang dipakai untuk pemisahan ulat yaitu :




PEMBERIAN MAKANAN.
Makanan yang diberikan kepada Kumbang Jerman maupun Ulat Jerman yang utama yaitu Polard gandum dan sanggup juga ditambahkan BR 5 ( pakan ayam ) dengan gabungan antara polard gandum dengan BR 5 berbanding 2 : 1 .Sedangkan sebagai media minumnya diberikan antara lain irisan waluh kuning,wortel, pepaya mentah, ketela pohon, manisah, semangka, melon dan beberapa buah2an yang banyak mengandung air.

Pemberian pakan pada Kumbang jerman minimal diatas kawat ram 1 cm, sehingga kawat ram tertutup dan tidak menimbulkan goresan dengan kumbang jermannya. Pemberian pakan tambahannya diadaptasi dengan kebutuhan dan tidak berlebihan. Sedangkan minuman yang terbaik untuk kesehatan Kumbang Jermannya yaitu irisan waluh kuning, sedangkan lainnya sekali – kali saja. Untuk pakan ulat jerman yang telah dipisahkan dari Kumbang Jerman maksimal 3 cm dari ganjal kotak dan minuman yang diberikan tergantung materi yang ada dengan irisan tipis dan setiap kotak diisi irisan maksimal 8 irisan saja untuk kebutuhan 2 hari, atau kalau dianggap kurang sanggup diberikan pemanis secukupnya.

Makanan dianggap telah habis ketika warna masakan sudah terlihat berwarna kehitam-hitaman, berarti itu yaitu kotoran ulat jerman, maka perlu ditambahkan masakan di masing-masing kotak dengan 2 ons masakan saja, alasannya lebih baik menambahkan pada waktu berikutnya daripada kelebihan. Jika dianggap kotoran sudah cukup banyak, maka sebaiknya segera dikurangi dengan cara mengayak kotoran terlebih dahulu dari ulatnya, dan mengembalikan kotoran kedalam kotak dengan maksimal kotoran 2 ons saja. Kotoran ini harus tetap ada pada masing-masing kotak, alasannya ulat jerman akan mencicipi bahwa daerah / kotak yang ditempati ulat yaitu habibatnya.

Mengenai kotoran yang sudah tidak dipakai lagi sebaiknya dikumpulkan dalam zak atau media apapun alasannya intinya kotoran ulat jerman ini sanggup dimanfaatkan untuk media pupuk organik, sehingga sanggup dimanfaatkan untuk flora yang dimiliki menyerupai jeruk, padi, cengkeh, bunga dan sebagainya.

Adapun gambar sumbangan pakan dan minum kumbang jerman maupun ulat jerman yaitu sbb :






PENGAMANAN KUMBANG DAN ULAT JERMAN.

A. Rak Kotak Kumbang & Ulat Jerman.

Rak kotak harus diamankan dari semut dengan cara setiap tiang penyangga rak diberikan wadah dibawahnya yang berisikan oli dengan cita-cita semut tidak naik kedalam kotak kumbang maupun ulat jerman. Binatang lain menyerupai contohnya tikus harus diwaspadai, sebaiknya gunakan jebakan tikus setiap dikala pada tempat-tempat tertentu sehingga hingga tidak ada lagi tikus di lokasi kumbang dan ulat jerman..

B. Kotak Kumbang & Ulat Jerman.

Kotak Kumbang dan kotak Ulat jerman sebaiknya diberikan epilog berupa kassa plastik dengan cita-cita cecak tidak masuk, alasannya cecak juga akan memakan kumbang maupun ulat jerman, dan bahkan cenderung akhir ulah si cecak kumbang banyak yang mati alasannya dibunuh oleh cecak. Disamping itu perlu juga disetiap kotak kumbang maupun ulat jerman diberikan pelepah / debok pisang gajih disetiap sisi ( kiri dan kanan di dalam kotak ) yang memanjang dengan ukuran 5 s/d. 7 cm panjang 50 cm dalam rangka menjaga kelembaban dan perembesan panas didalam kotak.

C. Minuman Kumbang & Ulat Jerman.

Yang perlu diwaspadai yaitu kebersihan dari minuman baik kumbang maupun ulat jerman yang berupa buah2an yang diperkirakan mengandung insektisida, oleh alasannya itu sebaiknya sebelum diberikan kepada kumbang dan ulat jerman harus dicuci higienis terlebih dahulu gres di iris dan diberikan sebagai minuman. Dengan demikian akan sanggup mencegah terjadinya ajal pada kumbang maupun ulat jerman.

D. Sirkulasi Udara.

Sirkulasi udara dalam ruangan daerah beternak seyogyanya cukup bebas, sehingga sanggup memperlihatkan temperatur yang jauh lebih normal. Namun demikian perubahan cuaca yang ekstrem dikala ini harus pula disikapi dengan kewaspadaan yang tinggi, contohnya dengan menempatkan alat temperatur untuk mengetahui suhu udara di lokasi dan perlu pula disiapkan alat pencetus udara ( kipas angin ).

E. Lokasi Kumbang dan Pembesaran Ulat Jerman.

Jika memungkinkan sebaiknya lokasi bertelurnya Kumbang terpisah dengan lokasi pembesaran ulat Jermannya, hal ini sebagai antisipasi jikalau terdapat virus pada ulat jermannya tidak hingga mengganggu acara kumbang jerman untuk bertelur. Dan pada awal beternak sebaiknya lokasi, rak, kotak kumbang maupun kotak ulat jerman harus steril dari banyak sekali kemungkinan virus, basil dan semacamnya dengan cara menyemprot dengan materi pembunuh basil yang dianggap baik dan dilakukan sebulan sekali.

Referensi:http://ulatjermanblitar.blogspot.com dan sumber lainnya

Pupuk Cair Dari Kencing Sapi, Ini Cara Membuatnya!

Tips Singkat Cara Mengolah Air Kencing Sapi Menjadi Pupuk Cair
Urin sapi atau air seni atau air kencing sapi yaitu cairan sisa yang diekskresikan oleh ginjal yang kemudian akan dikeluarkan dari dalam tubuh sapi melalui proses urinasi. Eksreksi urin dibutuhkan untuk membuang molekul-molekul sisa dalam darah yang disaring oleh ginjal dan untuk menjaga homeostasis cairan tubuh. 
Memanfaatkan kencing sapi menjadi produk yang mempunyai nilai jual dan nilai irit dengan mengolahnya menjadi pupuk cair. Inilah produk sampingan peternakan yang mulai dilirik para peternak untuk dikembangkan yaitu memanfaatkan urine atau kencing sapi menjadi pupuk cair yang mempunyai nilai jual. Pemanfaatan urine atau kencing sapi ini merupakan salah satu nilai tambah yang harus semakin diperhatikan oleh para peternak sebagai salah satu tiang penyangga biaya produksi ternaknya.


Sebagai citra kalau produk pupuk cair dari urine sapi ini berhasil dipasarkan secara kontinu dan makin meningkat seiring waktu maka pada gililarannya peternak akan bisa terbebas dari biaya produksi penggemukan sapinya.  Meskipun tidak mungkin bisa bebas 100%, tetapi dengan hasil penjualan pupuk cair urine sapi tersebut mereka bisa membeli pakan sapi, memperbaiki akomodasi sangkar dan lain-lain.
Pengertian dari Pupuk yaitu material yang ditambahkan pada media tanam atau flora untuk mencukupi kebutuhan hara yang dibutuhkan flora sehingga bisa berproduksi dengan baik. Material pupuk sanggup berupa materi organik ataupun non-organik (mineral).
Satu ekor sapi dengan bobot tubuh 400–500 kg sanggup menghasilkan limbah padat dan cair sebesar 27,5-30 kg/ekor/hari. Limbah padat merupakan semua limbah yang berbentuk padatan atau dalam fase padat (kotoran ternak, ternak yang mati atau isi perut dari pemotongan ternak). Limbah cair yaitu semua limbah yang berbentuk cairan atau berada dalam fase cair (air seni atau urine). Sebagai limbah organik yang mengandung lemak, protein dan karbohidrat, apabila tidak cepat ditangani secara benar, maka akan menjadi timbunan  kotoran disertai  dengan segala efek negatif yang ditimbulkannya menyerupai pencemaran air, udara, dan sumber penyakit.

Anda berminat untuk menciptakan sendiri pupuk cair dengan urine sapi ini? Berikut cara menciptakan pupuk cair menyerupai yang dimuat pada blog Dinas Pertanian Sulawesi Selatan sulsel.litbang.pertanian.go.id:

Pembuatan Pupuk Organik Cair dari Limbah Urine Sapi
Bahan dan alat :
  1. 1 kolam penampungan uk. 1 m3
  2. 1 pompa air
  3. 1 talang air panjang 4 m
  4. Sambungan talang air
  5. 1,4 liter Bakteri Rumio Bacillus
  6. 1,4 liter Bakteri Azoto Bacter
  7. 1100 liter urine sapi
  8. Selang air
  9. lem paralon
Cara Pembuatan :
  1. 1,4 liter bacteri Rumio Bacillus dan 1,4 liter kuman Azoto Bacter dimasukkan dalam 1100 liter air urine ke kolam fermentasi,
  2. Kemudian diaduk hingga rata, selanjutnya ditutuprapat selama 1 minggu.
  3. Setelah 1 ahad dipompa dengan memakai pompa air dan dilewatkan melalui talang air, dibentuk menyerupai tangga selama 6 jam, tujuannya untuk penepisan atau menguapkan kandungan gas amonia, semoga tidak berbahaya bagi flora yang akan di beri bio urine (Exotics Farm Indonesia 2010)
  4. Kemas dalam jirigen ukuran 5 liter
  5. Kemudian pupuk cair ini siap digunakan.
Cara Penggunaan :
  1. Untuk perendaman biji : 1 liter pupuk urine + 10 liter air direndam selama 10 menit.
  2. Untuk pupuk cair yang diaplikasikan lewat daun : 1 liter pupuk urine per tangki semprot.
(Penulis: Ir. Amirullah)
 
Penambahan Bakteri / EM-4 mempunyai beberapa manfaat diantaranya:
1. memperbaiki sifat fisik, kimia, dan biologis tanah
2. meningkatkan ketersediaan nutrisi dan senyawa organik pada tanah
3. mempercepat pengomposan sampah organik atau kotoran hewan
4. membersihkan air limbah dan meningkatkan kualitas air pada perikanan
5. menyediakan unsur hara yang dibutuhkan flora dan meningkatkan produksi flora serta menjaga kestabilan produksi (Utomo 2007).

Tambahan Info: Kandungan Kimiawi  Kotoran dari Beberapa Jenis Ternak


Nama Ternak & bentuk kotorannya N (%) F (%) K (%) Air (%)
Kuda - padat 0.55 0.30 0.40 75
Kuda - cair 1.40 0.02 1.60 90
Kerbau - Padat 0.60 0.30 0.34 85
Kerbau - Cair 1.00 0.15 1.50 92
Sapi -padat 0.40 0.20 0.10 85
Sapi - cair 1.00 0.50 1.50 92
Kambing - padat 0.60 0.30 0.17 60
Kambing - cair 1.50 0.13 1.80 85
Domba - padat 0.75 0.50 0.45 60
Domba - cair 1.35 0.05 2.10 85

Cara Beternak Sapi Potong Dan Analisa Usahanya

Sapi Potong Kualitas Super Hasil Penggemukan
Cara Menghitung Laba/Rugi Dalam Usaha Penggemukan Sapi Potong, Berikut Analisanya!
Pengertian Sapi Potong. Sapi potong yaitu jenis sapi yang diternakkan untuk dimanfaatkan dagingnya (berbeda dengan sapi perah yang dimanfaatkan susunya). Biasanya terdapat tiga tahapan utama dalam produksi daging sapi, yaitu tahap pengasuhan, penggembalaan dan santunan pakan.
Contoh analisis ini  didasarkan pada harga-harga ketika goresan pena ini dibuat pertama kali (asumsi-asumsi yang juga akan ditampilkan di bawah) sehingga untuk keakuratannya kita perlu memasukkan angka-angka terbaru atau harga-harga terbaru baik dari harga ternaknya, biaya pakan (harga materi pakan) dan biaya tenaga kerja terbaru. Kaprikornus tinggal memasukkan angka/harga terbaru pada item-item yang ada pada pola analisis perjuangan penggemukan sapi potong tersebut biar kita sanggup mendapat citra yang lebih terang prospek dari bisnis ini.
Pengertian Analisis Usaha. Analisis perjuangan merupakan sebuah cara untuk mengetahui tingkat kelayakan suatu jenis perjuangan yang akan kita lakukan, menilai kelangsungan usaha, stabilitas, profitabilitas dari suatu usaha, sub perjuangan atapun proyek.
Sebelum memulai perjuangan penggemukan sapi potong, ada baiknya kita melaksanakan beberapa tips dibawah ini sebagai materi pertimbangan.

Kumpulkan gosip awal sebelum beternak sebanyak-banyaknya dari sumber yang terpercaya
Sebaiknya calon peternak mempunyai pengetahuan mengenai teknik memelihara sapi. Pengetahuan akan pasar juga penting biar peternak tidak tertipu dalam memasarkan sapi yang berhasil digemuk-kan. Informasi ini sanggup diperoleh dari buku maupun artikel-artikel di majalah dan internet. Berkonsultasi dengan hebat peternakan juga menjadi alternatif yang baik untuk menggali informasi. Selain itu, ketika ini juga banyak seminar maupun training yang berkaitan dengan teknis beternak.

Mau memulai dari skala kecil, jangan aib untuk memulai dari skala rumah tangga meski hanya mencoba 1 - 2 ekor untuk mencari pengalaman
Tidak ada perjuangan yang pribadi besar ketika gres dimulai. Setiap perjuangan dirintis dari skala kecil yang kemudian menjadi besar dengan ketekunan dan kerja keras. Modal yang besar di awal perjuangan bukanlah jaminan suatu perjuangan akan sukses. Usaha penggemukan sapi potong sendiri sanggup dimulai dari kecil dengan jumlah sapi 2-4 ekor.

Memulai pada waktu yang sempurna dengan memperhitungkan waktu panen sapi ketika harga dipasaran sedang tinggi
Saat yang baik untuk membeli sapi bakalan yaitu menjelang hari raya Idul Fitri. Pada ketika itu banyak peternak menjual sapi mereka untuk biaya merayakan Lebaran. Sapi pun sanggup didapat dengan harga yang lebih murah. Sekitar 4 bulan kemudian ketika hari raya Idul Adha tiba, sapi yang telah sampaumur sanggup dijual kembali dengan harga berlipat. Namun, bergotong-royong untuk penggemukan sapi sanggup dimulai kapan saja alasannya yaitu masyarakat akan selalu membutuhkan daging sapi.

Mengembangkan perjuangan dari keuntungan
Sisihkan sebagian laba yang didapat untuk membeli sapi tambahan. Jika perlu, gunakan seluruh laba yang didapat. Saat populasi sapi yang dimiliki sudah cukup besar, peternak sanggup menikmati laba yang diperolehnya. Meski memang dalam berbisnis, mental perlu dipersiapkan untuk menghadapi adanya kerugian. Terlebih lagi dalam perjuangan budidaya sapi, sapi sanggup saja mati alasannya yaitu stres maupun penyakit.

Mencatat setiap kegiatan
Pencatatan yang dilakukan mencakup semua acara di peternakan, menyerupai jumlah pakan sapi dan peningkatan bobot dari bulan ke bulan. Pertambahan populasi, penjualan sapi, jumlah sapi yang sakit maupun mati, serta obat dan aksesori yang diberikan juga perlu dicatat. Ini penting untuk mengetahui track record kesehatan ternak terutama ketika terjadi serangan penyakit. Selain itu, pencatatan keuangan juga penting dilakukan biar besarnya modal dan laba sanggup diketahui secara pasti. Dengan demikian, sanggup diketahui dengan terang berapa dana yang harus dialokasikan untuk periode berikutnya.

Bergabung dengan kelompok ternak sapi
Kelompok ternak dibuat oleh peternak-peternak dengan bidang perjuangan sama. Dengan bergabung dalam kelompok ini, peternak sanggup memperoleh banyak manfaat, menyerupai fasilitas mendapat modal berbunga rendah, memperoleh kredit dari bank, serta sarana menyebarkan pengetahuan dan pengalaman.

Jangan ragu memulai pembibitan
Banyak peternak yang enggan memulai perjuangan pembibitan sapi. Padahal undangan yang tinggi akan sapi bakalan sampai ketika ini belum sanggup dipenuhi seluruhnya oleh perjuangan pembibitan sapi potong dalam negeri. Hal ini tercermin pada impor sapi bakalan yang semakin besar, serta harga sapi bakalan di dalam negeri yang semakin tinggi. Untuk itu, jangan ragu memulai perjuangan pembibitan sapi potong alasannya yaitu peluangnya juga sangat besar.

Untuk memperlihatkan citra bagi calon peternak mengenai perjuangan penggemukan sapi potong, berikut kami tampilkan pola analisis usahanya. 
 
Asumsi yang dipakai dalam analisis ini antara lain:
  • Lahan yang dipakai merupakan tanah pekarangan yang belum dimanfaatkan dan tidak diperhitungkan untuk sewa lahannya
  • Sapi bakalan yang dipelihara: 10 ekor sapi PO
  • Harga sapi bakalan: Rp 8.000.000,-/ekor
  • Bobot tubuh awal sapi bakalan: 250 kg/ekor
  • Sapi dipelihara selama 4 bulan dengan pertambahan bobot tubuh (PBB) sekitar 0,8 kg/ekor/hari, sehingga:
PBB selama 4 bulan = 0,8 kg x 120 hari
= 96 kg/ekor
Bobot tamat sapi = 250 kg + 96 kg
= 346 kg
Bobot seluruh sapi = 346 kg x 10 ekor
= 3.460 kg
Hasil penjualan sapi = 3.460 kg x Rp. 40.000/kg bobot hidup sapi
= Rp. 138.400.000
  • Luas kandang: 45 m2
  • Biaya pembuatan kandang: Rp 400.000/m2
  • Penyusutan sangkar 20% per tahun (dengan demikian penyusutan untuk satu periode ± 7%)
  • Gaji tenaga kerja (2 orang): Rp 500.000,-/bulan
  • Biaya listrik: Rp. 180.000
  • Biaya air: Rp. 225.000
  • Biaya peralatan: Rp 500.000,-/tahun, sehingga untuk satu periode Rp 170.000
  • Kotoran yang dihasilkan selama 1 periode sebanyak 5.000 kg dengan harga Rp 300,-/kg
  • Biaya pakan untuk satu periode:
  • Hijauan : 40 kg x 10 ekor x 120 hari x Rp. 100
  • Konsentrat : 3 kg x 10 ekor x 120 hari x Rp. 1.500
  • Suplemen pakan : 3 kg x 10 ekor x 120 hari x Rp. 200
  • Biaya vitamin B kompleks (1 kali santunan selama periode pemeliharaan untuk meningkatkan pertumbuhan dan daya tahan tubuh): Rp. 13.000 untuk 10 ekor sapi
  • Biaya obat cacing (1 kali santunan selama periode pemeliharaan sebagai upaya mencegah cacingan): Rp. 50.000 untuk 10 ekor sapi
Dari hasil uraian perhitungan di atas, diperoleh nilai rasio pendapatan : biaya = 1,22. Ini artinya dalam satu periode penggemukan, dari setiap modal Rp. 100 yang dikeluarkan akan diperoleh pendapatan sebanyak Rp. 122. Selain itu, dari perhitungan di atas juga sanggup diketahui nilai titik impas (Break Even Point/BEP) nya, yaitu:
1) BEP harga = total biaya : berat sapi total
= Rp. 114.898.000 : 3.460 kg
= Rp. 33.208/kg
2) BEP produksi = total biaya : harga jual sapi (per kg)
= Rp. 114.898.000 : Rp. 40.000
= 2.873 kg
Dari nilai BEP sanggup disimpulkan bahwa perjuangan penggemukan sapi ini akan mencapai titik impas kalau 10 ekor sapi mencapai bobot tubuh 2.873 kg atau harga jual Rp 33.208/kg.
(http://info.medion.co.id)

Istilah dan Perhitungan Profitabilitas
Perhitungan profitabilitas dengan mengunakan rumus (Munawir, 2004) :

Gross Profit Margin (GPM)
GPM = (Laba Kotor : Penjualan Bersih) x 100 %

Net Profit Margin
NPM = (Laba Bersih : Penjualan Bersih) x 100 %

Total Assets Turnover (TAT)
TAT = (Penjualan : Total Modal) x 100 %

Return on Investment (ROI)
ROI = (Laba Bersih : Total Modal) x 100 %

Return on Equity (ROE)
ROE = (Laba Bersih : Total Ekuitas) x 100 %


CONTOH LAIN: KONSEP USAHA PENGGEMUKAN SAPI BALI


Konsep Usaha dalam Penggemukan sapi bali ini dilakukan dalam skup kelompok, dimana pengelolaan acara perjuangan dilakukan oleh kelompok itu sendiri dengan diawasi dan di manage oleh pengurus kelompok, mulai dari santunan pakan, pemeliharaan dan pengolahan limbah ternak.
Pola pembagian hasil dalam penggemukan sapi bali ini yakni dengan pola 70% : 30% dimana dari Keuntungan higienis 70% yaitu Hak Petani sebagai pengelola dan 30% akan menjadi hak kelompok sebagai pemilik modal.

ASUMSI-ASUMSI USAHA PENGGEMUKAN SAPI BALI
Asumsi-Asumsi dalam Usaha Penggemukan Sapi Bali Adalah :
1. Lahan yang dipakai merupakan tanah pekarangan yang belum dimanfaatkan dan tidak diperhitungkan untuk sewa lahannya.
2. Sapi bakalan yang dipelihara sebanyak 10 Ekor jenis Pejantan Sapi Bali dengan harga awal Rp. 5.000.000/ekor dan berat tubuh lebih dari 300 kg/ekor.
3. Sapi dipelihara selama 6 bulan atau 180 Hari dengan penambahan berat tubuh sekitar 0,8 kg/ekor/hari.
4. Biaya Pembangunan Kandang Sebesar Rp. 10.000.000,-
5. Penyusustan sangkar 20% Per tahun dengan demikian penyusutan untuk satu periode 10% dengan taksiran usia hemat 5 tahun
6. Sapi membutuhkan Vitamin dan obat-obatan sebesar Rp. 5.000/ekor/bulan
7. Peralatan sangkar dibutuhkan sebesar Rp 500.000/tahun, dengan demikian untuk satu periode Rp. 250.000
8. Kotoran yang dihasilkan selama 1 periode sebanyak 20.917 kg kering dengan harga Rp. 1.000/kg
9. Bio Urine yang dihasilkan selama 1 periode sebanyak 27.000 Liter dengan harga Rp. 1.000/Liter
10. Pakan yang dibutuhkan untuk satu periode : HMT 40 kg x 30 x 180 x Rp.250 dan Konsentrat 3 kg x 30 x 180 x Rp. 4.000

ASPEK TEKSIS USAHA PENGGEMUKAN SAPI BALI
Dari Asumsi-asumsi diatas maka sanggup kita tuangkan kedalam aspek teknis dalam perjuangan penggemukan sapi bali dalam kurun waktu 1 periode penggemukan, yakni 6 bulan atau 180 hari sebagai dasar analisis perjuangan penggemukan sapi bali.


ASPEK TEKNIS
USAHA PENGGEMUKAN SAPI BALI
( DALAM 1 PERIODE PENGGEMUKAN )
NO
KETERANGAN
JUMLAH
SATUAN
1
Pengadaan Sapi Bakalan :
A. Populasi Awal Penggemukan
10
Ekor
B. Harga Sapi Bali Bakalan
5.000.000
Rp/Ekor
C. Taksiran Bobot Awal Bakalan
300
Kg/Ekor
2
Periode Penggemukan :
A. Jumlah Bulan Penggemukan
6
Bulan
B. Jumlah Hari Penggemukan
180
Hari
3
Produksi Sapi Penggemukan :
A. Penambahan Bobot Ternak
0,8
Kg/Ekor/Hari
B. Bobot Tercapai dalam 1 periode
144
kg/Ekor
D. Bobot Akhir Ternak
444
Kg/Ekor
E. Harga Jual Sapi Penggemukan
20.000
Rp/Kg/ST
4
Pakan :
A. HMT (10% X Bobot Sapi)
40
Kg/Ekor/Hari
B. Konsentrat (1% X Bobot Sapi)
3
Kg/Ekor/Hari
C. Harga HMT
250
Rp/Kg
D. Harga Konsentrat
4.000
Rp/Kg
5
Obat-Obatan & Vitamin :
A. Biaya Obat-obatan dan Vitamin
5.000
Rp/ST/Bln
6
Biaya Lain-Lain :
A. Kebutuhan Listrik
1
Kwh/Hari
B. Biaya Listrik
1.000
Rp/Kwh
C. Kebutuhan Air
15
M3/Bln
D. Biaya Air
2.500
Rp/M3
7
Biaya Tenaga Kerja
30.000
Rp/HOK
8
Peralatan Kandang
500.000
Rp/Th
Penyusutan Peralatan (50%)
250.000
Rp/Periode
9
Produksi Pupuk :
A. Kotoran Basah (60% Tercerna)
16
Kg/Ekor/Hari
B. Produksi Kompos (Kadar Air = 24,21%)
5
Kg/Ekor/Hari
C. Harga Pupuk Kompos
1.000
Rp/Kg
E. Produksi Bio Urine Sapi
5
Liter/Ekor/Hari
F. Harga Bio Urine Sapi
1.000
Rp/Liter

ANALISIS KEUANGAN USAHA PENGGEMUKAN SAPI BALI
Dari Aspek teknis diatas maka sanggup kami gambarkan aspek analisis keuangan dari penggemukan sapi bali dalam Periode I (6 Bulan) yaitu sebagai berikut :

ANALISIS PENGGEMUKAN SAPI BALI
( Dalam 2 Periode)
NO
URAIAN
JML
SAT
HARGA (Rp)
JML. BIAYA (Rp)
A. BIAYA-BIAYA
1.
BIAYA INVESTASI
1. Bangunan Kandang (Kapasitas 10)
1
Unit
10.000.000
10.000.000
2. Bangunan Gudang Pakan
1
Unit
0
0
3. Peralatan Kandang
1
Paket
500.000
500.000
TOTAL BIAYA INVESTASI
10.500.000
2.
BIAYA VARIABEL
1. Pembelian Bibit Bakalan Sapi Bali
10
Ekor
5.000.000
50.000.000
2. Hijauan Makanan Ternak (HMT)
72.000
Kg
250
18.000.000
3. Konsentrat
5.400
Kg
4.000
21.600.000
5. Vitamin dan Obat-obatan
6
Bulan
300.000
1.800.000
6. Biaya Listrik
180
Kwh
1.000
180.000
7. Biaya Air
90
M3
2.500
225.000
TOTAL BIAYA VARIABEL
91.805.000
3.
BIAYA TETAP
Ongkos Tenaga kerja
24
HOK
30.000
720.000
Penyusutan Kandang 10%
10
%
10.000.000
1.000.000
Penyusutan Gudang Pakan 10%
10
%
0
0
Penyusutan Peralatan Kandang 50%
50
%
500.000
250.000
TOTAL BIAYA TETAP
1.970.000
TOTAL BIAYA-BIAYA ( B. VARIABEL+B. INVESTASI+B.TETAP)
104.275.000
B. PENERIMAAN
1. Penjualan Sapi (Target 400 Kg/Ekor)
4.440
Kg
20.000
88.800.000
2. Penjualan Pupuk Kompos
9.000
Kg
1.000
9.000.000
3. Penjualan Bio Urine
9.000
Liter
1.000
9.000.000
C. TOTAL PENERIMAAN
106.800.000
D. KEUNTUNGAN
2.525.000
E. B/C RASIO
1,024214817
Keterangan :
Pada Periode Pertama Dengan Keuntungan yang sangat sedikit, mengingat adanya pembangunan aset kelompok yang cukup besar yakni pembangunan sangkar koloni, namun untuk mengetahui cash flow analisi pada tahun selanjutnya sanggup dilihat pada tabel cash flow dibawah

ANALISIS CASHFLOW PENGGEMUKAN SAPI BALI
Analisis Cashflow merupakan citra sebuah investasi yang berjalan selama periode penggemukan berlangsung.

No
URAIAN
Tahun Ke
I
II
Periode I
Periode II
Periode I
Periode II
I
PENDAPATAN
1
Penjualan Sapi Potong
88.800.000
88.800.000
88.800.000
88.800.000
2
Penjualan Pupuk Kompos
9.000.000
9.000.000
9.000.000
9.000.000
4
Penjualan BIO-Urine
9.000.000
9.000.000
9.000.000
9.000.000
TOTAL PENDAPATAN
106.800.000
106.800.000
106.800.000
106.800.000
II
PENGELUARAN
A
BIAYA INVESTASI
1
Bangunan Kandang Koloni
10.000.000
0
0
0
2
Bangunan Gudang Pakan
0
0
0
0
3
Peralatan Kandangan
500.000
0
0
0
B
BIAYA TETAP
1
Pembelian Bibit Bakalan
50.000.000
50.000.000
50.000.000
50.000.000
2
Ongkos Tenaga kerja
720.000
720.000
720.000
720.000
3
Penyusutan Kandang (10%)
0
1.000.000
1.000.000
1.000.000
4
Penyusutan Peralatan (50%)
250.000
250.000
250.000
250.000
C
BIAYA VARIABEL
1
Biaya HMT
18.000.000
18.000.000
18.000.000
18.000.000
2
Konsentrat
21.600.000
21.600.000
21.600.000
21.600.000
4
Vitamin dan Obat-obatan
1.800.000
1.800.000
1.800.000
1.800.000
5
Biaya Listrik
180.000
180.000
180.000
180.000
6
Biaya Air
225.000
225.000
225.000
225.000
TOTAL PENGELUARAN
103.275.000
93.775.000
93.775.000
93.775.000
III
BENEFIT PER PERIODE
3.525.000
13.025.000
13.025.000
13.025.000
IV
BENEFIT PER TAHUN
16.550.000
26.050.000
V
ANALISIS-ANALISIS
1
DF = (P/F,12%,5)
0,8928
0,7971
2
Nilai Sekarang (PV)
14.775.840
20.764.455
3
(B/C) Ratio
1,08
1,14
4
NPV
85.422.277
Keterangan :
Mengingat Keterbatasan halaman maka kami sanggup tampilkan Analisis Cashflow hanya pada periode yang ke IV pada tahun ke II, sedangkan pada tahun ke berikutnya alhasil akan sama dengan tahun ke II, dan pada tahun ke IV maka kelompok sudah sanggup melaksanakan pengembangan perjuangan berupa pembangunan kembali sangkar koloni.

Sumber:https://kelompokternakpucakmanik.blogspot.co.id dan sumber-sumber lainnya